Connect with us

Histori

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Published

on

Kota Depok

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga Ibu Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman, kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata serta sebagai kota resapan air.

Kota Depok sendiri diresmikan pada 27 April 1999. Peresmian Kota Depok berdasarkan Undang-undang No. 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999.

Nah mengenai asal-usul nama Kota Depok, ada beberapa versi. Versi pertama adalah nama Depok merujuk dari bahasa Belanda De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen yang artinya organisasi kristen yang pertama.

Baca Juga:

  1. Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia
  2. Sate Bulayak, Sate Sedap Khas Lombok yang Sarat Nilai Filosofis
  3. Lontong Roomo, Makanan Nikmat Khas Gresik yang Lahir di Era Sunan Giri

Dalam Jejak-jejak Masa Lalu Depok: Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingn melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.

Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Prancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Chastelein membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Serengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Serengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian.

Versi lain menyatakan nama Kota Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Kata Depok merupakan kependekan kata dari Bahasa Sunda Padepokan yang memiliki arti tempat pertapaan.

Ada pula versi yang menyebutkan Depok berasal dari kata ‘Deprok’ atau duduk santai ala melayu.

Kota Depok

Penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian Depok membuat Prabu Siliwangi ngedeprok di kawasan yang tidak jauh dari Sungai Ciliwung.

Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba dari Kesultanan Banten saat melakukan perjalanan ke Cirebon menggunakan jalur yang melintasi kawasan Depok dan sempat menetap di Beji.

Seiring berjalanya waktu. Wilayah Depok setelah merdeka dan banyak peristiwa di daerah itu. Depok masuk di wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Mengutip dari situs resmi Pemerintah Kota Depok. Wilayah Depok berawal dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor.

Kemudian pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI).

Serta meningkatnya perdagangan dan Jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Kota Depok

Pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1981 yang peresmiannya pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri dalam Negeri H. Amir Machmud yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu :Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoram Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.

Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukma Jaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, Desa Kalimulya.

Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan.

Khususnya bidang Pemerintahan semua Desa berganti menjadi Kelurahan dan adanya pemekaran Kelurahan , sehingga pada akhirnya Depok terdiri dari 3 (Kecamatan) dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yaitu :

Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahjn Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji terdiri dari (enam) Kelurahan,yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurah Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka, Kelurahan Kukusan, Kelurahan Tanah Baru.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CityView

Rumah & Observatorium Bosscha, Jejak Mulia Sang Raja Teh Priangan

Published

on

Rumah Bosscha

Ketika mendengar nama Bosscha, ingatan kita pasti langsung tertuju pada tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Namun di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, pemilik nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha punya banyak jejak yang sayang untuk dilupakan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan sosok di belakang berdirinya Peneropongan Bintang Bosscha yang hidup di kawasan Bandung, antara 1887 hingga 1928. Seorang Belanda yang kaya-raya dan dermawan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan putra seorang Fisikawan Belanda, Prof. Dr J Bosscha Jr, yang lahir pada 15 Mei 1865 di Belanda. Ia datang ke Indonesia, berlayar ke Jawa pada 1887. Saat itu usianya 22 tahun. Sesampainya ke Indonesia, ia bekerja di perkebunan teh milik pamannya. Hingga akhirnya pada 1896, Bosscha membangun perkebunan tehnya sendiri di kawasan Malabar, Pangalengan, Bandung Selatan. Namanya adalah Perkebunan Teh Malabar.

Baca Juga:

  1. Nikmatnya Kopi Durian Lampung, Kopi Peningkat Libido Lelaki
  2. Wajib Coba Teh Talua, Minuman Penambah Libido Asal Minang
  3. Kopi Jahe, Perekat Kehangatan Persaudaraan Masyarakat Betawi

Perkebunan teh itu berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.000 hektare. Selain teh, ia juga menanaminya dengan kina yang merupakan obat malaria. Jejak peninggalannya masih bisa ditemukan di berbagai sudut wilayah Bandung, salah satunya Rumah Bosscha.

Menurut Alam Buchori Muslim, staf pemasaran agrowisata PTPN VIII, rumah tersebut dibangun tepat ketika Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar pada 1896. Luas bangunannya sekitar 550 meter persegi. Meneer Belanda menempati rumah itu hingga akhir hayatnya, yakni pada 26 November 1928.

Usaha Bosscha cukup sukses. Selama 32 tahun menjadi pengelola, perkebunan teh miliknya berkembang hingga memiliki dua pabrik teh dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar internasional. Dari hasil perkebunan tehnya inilah, Bosscha menyumbang dana ke berbagai yayasan pendidikan di sekitar Bandung, termasuk untuk pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB sekarang) dan membuat peneropongan bintang, yang sekaligus merupakan keinginannya.

Rumah Bosscha

Bersama kolega, Bosscha sendirilah yang membeli Teleskop Refraktor Bamberg dan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang pada masa itu harganya sangat mahal. Ia langsung membelinya dari Jerman. Sayang, sebelum dapat melihat bintang, pada 26 November 1928 Bosscha sudah lebih dulu meninggal. Ia dimakamkan di sekitar kawasan perkebunannya di Malabar; sesuai dengan permintaannya.

Observatorium Bosscha

Di sisi lain, Rumah peristirahatan Bosscha mengadopsi arsitektur Eropa yang ditandai oleh cerobong asap dari tungku kayu bakar di ruang tengah. Rumah itu terdiri dari beberapa kamar tidur dan kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, bar, dapur bersih, dapur kotor, dan ruang bawah tanah.

Bangunan didominasi oleh material kayu dan batu alam berwana hitam yang bisa terlihat di dinding luar. Rumah dikeliling tanaman besar dan kecil yang menambah keasrian bangunan berbentuk persegi itu. Rumah tersebut pernah direnovasi beberapa kali, seperti saat penjajahan Jepang sekitar 1942 dan Gempa Pangalengan yang terasa sampai Malabar.

Continue Reading

Histori

Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia

Published

on

Douwes Dekker

“Pada 1956, dihadapan tokoh Indo dalam Gabungan Indo untuk Kesatuan Indonesia (GIKI), Presiden Soekarno menobatkan gelar “Bapak Nasionalisme Indonesia”, kepada Ernest Francois Eugene Douwes Dekker”.

Dialog tentang nasionalisme Indonesia seolah tak kunjung usai. Wacana nasionalisme tiada henti-henti ditafsirkan, bahkan kerapkali disisipi maksud politis dan agenda tertentu. Seakan wacana nasionalisme bagian dari kehendak rezim.

Rezim Orde Baru mengubur wacana nasionalisme Orde Lama yang lebih mengedepankan peran sipil (negarawan) ketimbang militer.

Di bawah rezim Orde Baru, pengaruh militer melambung, sedangkan peran sipil dalam sejarah Indonesia meredup. Akibatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia mempercayai bahwa kemerdekaan tidak dapat tercapai tanpa perjuangan fisik.

Jika saya tidak menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga, mungkin, pemahaman saya selaras dengan wacana nasionalisme yang dibentuk rezim Orde Baru. Jauh lebih masuk akal mengagung-agungkan peran militer daripada sipil, apalagi jikalau Cityzen hanya memperoleh informasi dari pelajaran sekolah.

Bagaimana anda bisa memahami peran sipil dalam sejarah Indonesia, apabila anda hanya membaca buku referensi yang mendukung perjuangan militer. Cityzen bisa mengamati berbagai buku pelajaran sejarah dari sekolah dan akan menjumpai penjelasan perjuangan sipil yang seakan-akan cepat dibasmi. Seperti Indische Partij yang diceritakan berumur singkat, tanpa ada penjelasan lebih lanjut terkait keberlanjutan dari wacana nasionalisme yang diusungnya.

Coba bandingkan dengan peran militer, tentu sangat hebat. Perjuangan fisik seolah-olah solusi kemerdekaan Indonesia yang paling konkret, sedangkan gambaran perjuangan sipil melalui diplomasi maupun negoisasi tampak rumit, dan mendefinisikan keberhasilannya sangat sulit, terlebih untuk murid sekolahan. Akan tetapi, sesungguhnya perjuangan militer juga mengalami kerumitan yang sama dengan perjuangan sipil.

Pasca Perang Revolusi Fisik (Agresi Militer Belanda), dalam kubu militer terjadi banyak pergolakan internal yang ditafsirkan sebagai masalah eksternal.

Berbagai pemberontakan dan aksi-aksi kerusuhan bersumber dari ketidaksanggupan pihak militer dalam mengorganisir laskar-laskar rakyat (para-militer).

Namun, rezim Orde Baru telah menggarap narasi sejarah Indonesia dengan baik, sehingga penulisan sejarah mengenai hal itu baru muncul setelah Reformasi.

Berbalik ke masa Orde Lama, Soekarno pernah menganugerahi gelar Bapak Nasionalisme Indonesia kepada pejuang sipil dari kaum Indis, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker.

Indis (Indo, Indisch) mengacu pada sifat ke-Hindia Belanda-an yang terwujud dalam kebudayaan hibrida (campuran Barat-Belanda dan Timur-Jawa). Kaum Indis mendukung kebudayaaan Indis dan Ernest F.E. Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudhi bagian darinya.

Baca Juga:

  1. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau
  2. Inggris di Jawa: Kala Britania Menanamkan Modal di Indonesia
  3. Tri Koro Dharmo, Lahirnya Kaum Terpelajar yang Fokus Pada Isu Pendidikan

Menurut Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis; Dari Zaman Kompenie Sampai Revolusi, persona Ernest F.E Douwes Dekker tidak terlepas dari kehidupan masa kanak-kanaknya.

Selazimnya anak-anak dari keluarga Indis, ia diasuh para babu atau jongos yang juga merangkap sebagai pembantu rumah tangga. Kultur masyarakat Indis dan pendidikan Barat inilah yang mempengaruhi pandangan dunia seorang Ernest F.E Douwes Dekker.

Ernest F.E Douwes Dekker tumbuh menjadi pemuda yang idealis. Ernest F.E Douwes Dekker diberhentikan, oleh atasannya R. Jesse, setelah membela pekerja perkebunan kopi Sumber Duren di kaki Gunung Semeru yang dieksploitasi.

Karir keduanya sebagai pegawai laboratorium (ahli kimia) di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, juga tumbang karena ia memprotes kecurangan dalam pembagian air irigasi antara sawah milik warga pribumi dan perkebunan tebu kolonial.

Episode berikutnya, tulis Pradipto Niwandhono, dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan ; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia, Ernest F.E Douwes Dekker mendaftakan diri sebagai sukarelawan dalam Perang Besar Boer (1899-1902).

Orang-orang Calvinis Belanda membangun koloni permanen di Capetown (Afrika Selatan) semenjak tahun 1652, nantinya mereka dikenal sebagai kaum Boer. Sepanjang abad ke-19, secara berangsur-angur Inggris menjarah wilayah kekuasaan kaum Boer.

Samuel Williard Crompton dalam buku 100 Peperangan Yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia menulis jika serangkaian peperangan sengit memuncak pada 1899, Ernest F.E Douwes Dekker bergabung dalam kekuatan Boer dibawah komando Piet Conje, Louis Botha, dan Jacobus De La Rey. Perjanjian Vereeniging mengakhiri perang, kaum Boer mengakui kedaulatan Inggris, sebagai gantinya memperoleh kompensasi kerugian perang dan hak istimewa.

Menyaksikan langsung Perang Boer, pandangan dunia Ernest F.E Douwes Dekker semakin terbuka. Penemuan emas di negara bagian Boer, Transvaal, menggambarkan eksploitasi sumber daya yang mendorong kolonialisme.

Konflik agraria (pertanahan) pun terjadi, orang-orang Boer mempertahankan tanah leluhurnya dari ekspansi Inggris yang merangsang nasionalisme. Cara Inggris menuntaskan konflik dengan Boer bagi Ernest F.E Douwes Dekker bisa diterapkan di negeri jajahan Hindia Belanda.

Gagasan Ernest F.E Douwes Dekker tentu tidak digubris karena terlampau radikal (dalam konteks pemerintah kolonial Belanda padapermulaan abad ke-20).

Pemerintah kolonial Belanda sangat konservatif dan penuh pertimbangan, terutama bila menyinggung dana dan isu diskriminasi ras yang Ernest F.E Douwes Dekker usung dalam berbagai opininya di surat kabar.

Di sisi lain, Ernest F.E Douwes Dekker mendobrak nasionalisme Indonesia, yang tanpa memandang etnis, suku dan ras, terpenting lahir dan menghuni tanah Hindia Belanda.

“(Ernest) Douwes Dekker sendiri telah sering memberi penekanan pada pembaca Indo-nya bahwa mereka akan ‘berkhianat’ pada ibu Jawa mereka jika mengambil sikap superior (congkak ala Eropa) tersebut. Oleh karenanya, ia mendesak khlayak Indo untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘orang-orang Hindia (de Indiers), tempat mereka lahir dan dibesarkan”, tulis Pradipto Niwandhono dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia.

Continue Reading

Histori

Kebersihan Lingkungan: Budaya Buang Air, Cuci, dan Mandi Masyarakat Surakarta

Published

on

ilustrasi kebersihan

Kata buang hajat merupakan rangkaian kata dalam bahasa Indonesia yang diperhalus. Kata tersebut untuk menyatakan sebuah perbuatan manusia dalam membuang kotoran bekas makan dan minumnya, berupa kotoran feses (buang air besar) dan air seni (buang air kecil).

Pada beberapa daerah di pulau Jawa, istilah buang hajat dinyatakan dalam kata, berak, beol, ngising (Jawa) dan kabeuratan (Sunda). Pun demikian tempat untuk membuang hajat dapat disebutkan dalam berbagai istilah, yaitu: jamban dan kakus.

Istilah ini dipakai untuk menamakan sebuah tempat khusus untuk buang air besar terutama dan dibuatkan bilik untuk penutup yang di bawahnya dibuatkan lubang untuk penampungan tinja.

Pada umumnya, toilet model seperti ini hanya sedalam 2-3 meter dan tidak dilengkapi dengan air yang banyak untuk membasuh kotoran yang masih menempel di badan.

Setelah penuh akan ditutup dan ditimbun dengan tanah, lalu dibuatkan lubang di tempat lain dengan model yang sama.

Masalahnya, bau dari tinja yang ada, tidak dapat dihindari. Bau tinja semakin khas apabila memasuki masa kemarau.Setiap pagi dan sore masyarakat di Surakarta pergi ke kali atau sungai untuk mandi, cuci dan buang hajat bahkan untuk mengambil air pun, masyarakat Surakarta berada di sungai.

Sungai menjadi jantung kehidupan masyarakat. Bagi masyarakat Cina di Batavia, mereka terbiasa membuang hajat di sawah yang mana kotoran tersebut dimaksudkan untuk sebagai pupuk.

Dalam hal MCK, mengetahui dan melihat tubuh antara satu penduduk dengan penduduk lain sangat biasa termasuk juga untuk para perempuan.

Mandi bersama di sungai atau di pinggiran kali merupakan hal yang umum ditemukan hampir di seluruh Hindia Belanda.

Ketika mandi bersama, lelaki perempuan tersebut hanya berbatas batu atau rerimbunan daun agar tidak terlihat satu sama lainnya. Tetap ada juga yang tanpa pembatas, hanya yang membedakan laki-laki mandi berada di utara sungai, dan perempuan berada di selatan sungai.

Hal ini tentu saja tidak lepas dari pertimbangan secara praktis dan kemudahan. Tanpa menggunakan biaya yang cukup mahal untuk memiliki air yang higienis untuk membersihkan tubuh, masyarakat hanya menggunakan sisa-sisa mata air yang digunakan oleh masyarakat kolonial.

Pada pinggiran sungai lainnya, terdapat bilik-bilik bambu yang digunakan sebagai toilet. Toilet tersebut pada umumnya berada di kawasan hilir sungai yang bukan di daerah hulu sungai.

Bagi masyarakat yang menempati kawasan pedalaman yang cenderung jauh dari sungai, terdapat sumur-sumur umum yang digunakan untuk mengambil air. Hanya saja sumur-sumur tersebut tidak dipergunakan untuk mandi, cuci, buang hajat.

Di sumur-sumur tersebut hanya dipergunakan untuk mencuci nasi ataupun membersihkan barang-barang dapur lainnya.

Baca Juga:

  1. Propaganda Kebersihan Masyarakat Surakarta di Era Hindia Belanda
  2. Rekayasa Saluran dan Arus Air dalam Prasasti Tugu
  3. Jugun Ianfu: Perbudakan Seksual Wanita Indonesia Pada Jaman Pendudukan Jepang

Di Surakarta terdapat beberapa sumur yang menjadi sumber mata air masyarakat sekitar. Ada yang berupa sumur bor dan sumur galian, yang diperuntukkan secara umum.

Sumur-sumur tersebut sangat dijaga kebersihan dan kelestarian airnya. Terkadang untuk menunjukkan bahwa sumur tersebut terjamin kebersihannya dan memberi berkah bagi yang mengambilnya, mereka membuat dongeng-dongeng terkait keberadaan sumur ajaib.

Kuntowijoyo dalam Raja, Priyayi, dan Kawula kemudian mengkaitkan cerita tersebut dengan tumbuh dan majunya Sarekat Islam dan agama Islam di Surakarta.

Namun, bila ditelisik lebih dalam, penggunaan kata sumur merupakan sebuah indikasi bahwa sumber-sumber mata air merupakan sesuatu hal yang penting bagi masyarakat Surakarta.

Karena pada umumnya tidak semua orang yang mampu memiliki sumur di rumahnya, Lantas bagaimana dan di mana cara masyarakat Surakarta mandi dan buang hajat pada abad ke-20?

Orang Surakarta memiliki kebiasaan membuat bilik yang berisi kubangan yang dibentuk memanjang. Bilik itu terbuat dari bambu untuk sekedar menutup dan menghalangi pandangan orang lain.

Masyarakat Surakarta menyebut bilik tersebut dengan nama jumbleng. Bilik tersebut terbuat dari anyaman bambu yang direkatkan satu sama lainnya. Terkadang anyaman bambu tersebut hanya diikat atau di taruh di kanan kiri dan dimuka orang yang buang hajat tersebut.

Penggunaan bambu sebagai media penghalang tidak lepas dari faktor kepraktisan dan kemudahan. Bambu merupakan bahan yang mudah didapat, bambu terdapat di sekitar sungai, di tengah perkampungan.

Jumbleng tersebut tidak hanya di buat di kawasan kering, akan tetapi juga dibuat di sepanjang kali maupun embung-embung buatan yang di dalamnya terkadang terdapat ikan peliharaan.

Pada umumnya jumbleng tersebut berada dan dibuat di belakang rumah, hanya pada daerah-daerah tertentu saja peletakannya berada di depan rumah, seperti halnya masyarakat Kudus.

Pada masyarakat Kudus, peletakan jamban tidak berada di belakang sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Surakarta. Mereka meletakkan jamban halaman depan rumah.

Ada beberapa alasan bagi masyarakat Kudus berprilaku demikian, yang pertama adalah menjaga kebersihan rumah merupakan sebuah kewajiban, sehingga dengan adanya jamban yang berada di halaman, maka sebelum masuk rumah dapat mensucikan diri dan tubuh mereka dari pelbagai kotoran yang mengenai tubuh mereka.

Kedua, jamban tersebut sebagai alat kontrol publik terhadap setiap masyarakat yang mendiami kawasan Kudus agar tidak telat bangun untuk sholat subuh, karena bagi warga setempat, telat sholat subuh merupakan sesuatu perbuatan yang memalukan.

Sedangkan bagi mereka yang bertempat tinggal di pingir kali dan sungai, maka jamban/toilet yang mereka gunakan pada umumnya berupa bilik-bilik kecil yang terletak di pinggir sungai.

Penggunaan dan pembuatan bilik-bilik tersebut hanya diperuntukkan bagi remaja dan orang-orang dewasa.

Bagi anak-anak, tempat mandi dan buang hajat berupa papan pendek yang terbuat dari kayu. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama papan gladak. Di tempat tersebut mereka mandi dan buang hajat, dengan bantuan orang tua.

Continue Reading

Latest News

CityView4 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan5 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout5 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti5 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling5 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok5 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur5 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori5 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling5 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional5 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional5 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti5 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional5 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update5 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional5 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional5 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle5 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView5 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout5 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis5 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi5 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya5 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView5 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional5 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional5 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending