Connect with us

Sosial-Budaya

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Published

on

nginang dan alat-alatnya

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Tradisi nyirih memberikan hikmah tentang perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu.

Sekalipun kini tradisi mengunyah sirih hanyalah fenomena kecil di tengah-tengah masyarakat, bagi yang pernah mengunjungi pelosok-pelosok negeri–dari Sumatra, Sulawesi, ataupun Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur hingga Papua–bisa dipastikan masih akan ditemui kebiasaan ini.

Budaya mengunyah sirih yang sering disebut dalam banyak bahasa daerah, antara lain, “nyirih”, “nginang”, “bersugi”, “bersisik”, “menyepah”, atau “nyusur”, setidaknya hingga kini masih terlihat lazim dilakukan oleh generasi tua, baik laki-laki maupun perempuan, di sejumlah daerah.

Belum diketahui asal-usulnya secara pasti. Konon, tradisi mengkonsumsi sirih dan pinang telah dimulai sejak zaman neolitikum. Sekitar 3.000 tahun yang lalu, hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara.

Ada pendapat yang beranggapan jika tradisi itu berasal dari India. Namun pandangan lain menyebutkan, tradisi ini kemungkinan berasal dari kepulauan Nusantara. Ini didasarkan pada asumsi, pinang dan sirih sendiri diduga kuat ialah tanaman asli di kepulauan Indonesia.

Selain itu, juga menyimak pentingnya posisi nyirih bagi orang Indonesia terlihat mencapai tingkatan yang lebih dalam ketimbang di daerah lain di seputar Asia. Hal ini tercermin dari hadirnya tradisi nyirih dalam hampir semua ritual. Bahkan menurut catatan Anthony Reid (2018), dari ritual kelahiran, inisiasi kedewasaan, perkawinan, hingga kematian; dari ritual dan praktik penyembuhan, hingga ritual persembahan kepada roh leluhur.

Boleh dikata, di masa lalu mengunyah sirih atau nyirih di Indonesia bukanlah soal preferensi individual, melainkan keniscayaan dari ritus sosial bagi setiap orang dewasa. Tidak menawarkan sirih, atau menolak nyirih saat ditawari, bahkan akan dicap sebagai penghinaan.

Menariknya, di sepanjang daerah di Indonesia bicara bahan untuk menyirih pun nisbi serupa. Secara umum ada tiga unsur utama dari bahan nyirih, yakni pinang, daun sirih, serta kapur sirih yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut “injet”, yang terkadang bahan ini didapatkan dari melumat cangkang kerang.

Yang bisa dikata membedakan tradisi ini di pelbagai wilayah di Nusantara ialah berupa kepercayaan-kepercayaan yang menyertai tradisi itu. Namun, terlepas dari perbedaan itu, pinang dan sirih sejak ribuan tahun tampaknya telah dimuliakan dalam kebudayaan-kebudayaan lokal Indonesia.

Kosa Kata dan Ritual

Potret masa lalu dari fenomena mendarah dagingnya tradisi pinang nyirih ini, bukan saja terindikasi kuat dalam keragaman istilah untuk kedua bahan ini, tapi juga lekat dalam praktik ritual pernikahan adat di Nusantara.

Pinang dan sirih yang istilah dalam bahasa Melayu-nya, atau pineung” dan “ranub” dalam bahasa Aceh, “jambe” dan “suroh” dalam bahasa Jawa, “banda” dan “chanangˆ” dalam bahasa Bali, “rappo” dan “leko” dalam bahasa Makasar, “alossi” dan “ota” dalam bahasa Bugis, serta “hena” dan “bido-marau” dalam bahasa Ternate; dan lain sebagainya.

Terkait dengan ritual adat pernikahan, dari bahasa Melayu istilah ini masuk dalam Bahasa Indonesia modern. Pinang, meminang, yang berarti melamar atau meminta seseorang untuk dinikahi; pinangan ialah berarti meminta pertunangan.

Tampaknya sudah lama dimaknai, berpadunya sirih dan pinang menjadi simbol persetubuhan atau pernikahan. Buah pinang dianggap merepresentasikan unsur “panas” dan daun sirih merepresentasikan unsur “dingin”.

Di Aceh, simbolisasi ini menggunakan daun sirih. Dalam bahasa Aceh, ba ranub artinya “memberikan sirih” yang maknanya ialah “memberikan cinta”. Pria Aceh di masa lalu menceraikan istrinya dengan memberikan tiga lembar daun pinang.

Dalam bahasa Makasar, leko passiko yang artinya “sebungkus daun sirih juga bermakna mengajukan lamaran. Di sana Ibu pengantin perempuan melakukan ritual nyirih di rumah bersama pasangan pengantin di malam pertama; setelah kelahiran anak, ibu baru dan mertuanya melakukan ritual nyirih bersama.

Dalam upacara panggih, adat perkawinan orang Jawa, misalnya, dikenal serangkaian ritual yang menghadirkan daun sirih sebagai perlengkapannya, yakni saat prosesi “balangan suruh”. Di sini daun sirih akan membungkus buah pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau hitam lalu diikat dengan benang lawe.

Baca Juga:

  1. Tepuk Tangan Mawar, Tradisi Adat Melayu untuk Mensyukuri Nikmat dari Allah SWT
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Perisai Herbal: Jamu Sebagai Pelindung Tradisional bagi Masyarakat Jawa

Orang Jawa menyebut lintingan sirih itu sebagai gantal. Upacara balangan suruh atau gantal yaitu momen ritual panggih ini, sepasang mempelai akan saling melempar suruh sebagai perumpaman kedua mempelai saling melempar kasih dan harapan.

Bahkan, dewasa ini, di kalangan masyarakat yang sudah meninggalkan penggunaan sirih, seringkali masih dijumpai seperangkat daun sirih buatan berbahan perunggu atau perak dipajang di antara perlengkapan pernikahan, dan diserahkan sebagai semacam pernak-pernik perlengkapan untuk tujuan ritual ini.

Catatan Sejarah

Panjangnya usia tradisi nyirih masyarakat Nusantara setidaknya tergambar dalam salah satu relief di Candi Borobudur (abad ke-8) dan Candi Sojiwan (abad ke-9). Relief itu memperlihatkan tempat sirih dan tempat meludah (dubang) serta pahatan orang mengunyah di sampingnya, yang lantas ditafsirkan oleh para arkeolog sebagai tengah mengunyah sirih.

Menurut catatan Anthony Reid (2018), pada masa periode Dinasti Tang (7 – 10 M) banyak referensi dari China yang menulis penggunaan dan ekspor pinang dari daerah yang diduga ialah Indonesia.

ChanJu-kua mencatat, di Po-ni (Brunei?) abad ke-12, sirih sering dipakai dalam ritual pernikahan dan seremoni istana. Sedangkan Ma Huan melaporkan tentang Jawa sejak awal abad ke-15.

Di China sendiri, istilah pinang pada masa Dinasti Tang ialah “pin-lang”, yang diduga kuat diambil dari bahasa Melayu, “pinang”. Ini setidaknya menunjukkan area yang pernah didominasi oleh Kerajaan Sriwijaya (Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo barat) adalah sumber komoditas ini.

Hingga abad ke 16 – 17, seturut Anthony Reid, telah banyak ditemukan catatan perihal tradisi nyirih yang dilakukan di hampir semua tempat di Asia tropis. Bahkan karena sirih adalah salah satu item pengeluaran yang dianggap penting, kantung uang yang diterima oleh budak milik Belanda pada abad ke-18 disebut sebagai siriegeld (“uang sirih”). 

Nyirih, boleh dikata menjadi medium tata krama untuk tamu di istana atau desa. Mirip fungsi teh, kopi, atau rokok dewasa ini. Tak hanya itu, nyirih juga jadi simbol ritual utama, obat pencernaan, pasta gigi atau penyegar mulut, atau sebagai obat penenang atau bahkan penangkal rasa lapar.

Tome Pires di abad ke-16 dalam The Suma Oriental mengungkapkan hal ini:

“Nyirih membantu pencernaan, menenangkan otak, memperkuat gigi, sehingga pria yang mengunyahnya biasanya punya gigi yang utuh, tidak ada yang ompong, bahkan sampai usia delapan puluh tahun. Mereka yang nyirih memiliki napas harum, dan jika sehari saja tidak nyirih maka napas mereka menjadi amat bau.”

Beberapa bahan sebagai komposisi tambahan dalam nyirih, merujuk tulisan Anthony Reid, antara lain kamper, cengkeh, pala, ambar (ambergris), kapulaga, dan minyak rusa. Bahan tambahan ini menurutnya sudah tertulis dalam literatur Sansekerta sejak abad pertama masehi.

Namun dalam perjalanannya gambir dan tembakau juga menjadi bahan tambahan dalam tradisi nyirih. Bahkan boleh dikata sejak akhir abad ke-18, dua bahan tambahan ini plus sirih, pinang dan injet, jadi standar yang lazim dalam tradisi nyirih.

Menarik dicatat, kuatnya tradisi nyirih ini membuat bangsa Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dulu tak luput juga mengadopsi kebiasaan ini. Persepi bahwa nyirih baik untuk kesehatan gigi tampaknya juga diyakini oleh bangsa Eropa saat itu.

Anthony Reid mencatat, orang-orang Belanda di Batavia mulai meninggalkan kebiasaan nyirih mulai pertengahan abad ke-18, sekalipun kaum perempuannya masih melakukan itu hingga abad ke-19.

Kebiasaan ini menghilang setelah muncul tren baru dalam kebiasaan nyirih, yaitu menjejalkan tembakau ke mulut setelah keluar air liur pertama. Kebiasaan nyirih tampak mulai menjijikan bagi orang Eropa.

Manjelang berakhirnya abad ke-19, perbedaan kultural bangsa Eropa dengan bangsa Indonesia menjadi semakin tajam. Kini bagi orang Eropa, kebiasaan nyirih dan meludahkan bekas tembakau penyumpal mulut dipandang sebagai tanda inferioritas bangsa Indonesia.

Memasuki abad ke-20, sejalan dengan penyebaran pendidikan barat tampaknya berkaitan erat dengan mulai ditinggalkannya kebiasaan nyirih. Seluruh citra modernitas yang dikontruksi oleh pendidikan Belanda bertentangan dengan aktivitas nyirih.

Di Bugis dan Makasar, misalnya, pada 1900 hampir semua orang nyirih, tapi pada 1950 hampir tak ada satupun orang melakukan itu. Ketika orang Bugis dan Makasar membeli sirih, itu dilakukan untuk persyaratan ritual perkawinan dan bukan dikonsumsi.

Di Jawa, Bali, dan Sumatra, laiknya dampak kolonialisme, bicara dampak “modernisasi” tampaknya berlangsung secara lebih gradual. Sejak 1903, hanya sedikit bupati Jawa yang nyirih, meskipun piranti peralatan nyirih masih dibawa-bawa dalam acara formal dan ritual adat.

Selain aspek pendidikan, di sini penting juga disebutkan fesyen sebagai faktor penyebab hilangnya tradisi nyirih.

Di sepanjang abad ke 19 – 20, konsumsi rokok dicitrakan sebagai bagian dari moderenitas. Sedangkan nyirih semakin terlihat sebagai perilaku yang jorok dan tidak higinies.

Ya, suka atau tidak suka, konsumsi rokok ialah salah satu faktor penting yang berdampak menggeser kebiasaan nyirih dalam perilaku sosial masyarakat di Indonesia.

Suka atau tidak suka juga kini tradisi nyirih hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, atau sebutlah masyarakat adat, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara intensif.

Dari tradisi nyirih ini, hikmah yang dapat disimak ialah pelajaran perjalanan proses keterputusan dan sekaligus kesinambungan sebuah tradisi dari masa lalu

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pojok

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Published

on

Aji Ugi

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda. Tetapi dalam masyarakat Bugis, haji bukan semata-mata praktik ibadah dan ritual untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

Haji juga terkait dengan ritual lokal, penanda status sosial, bahkan juga kini menjadi bagian dari gaya hidup. Penelitian dengan metode kualitatif di salah satu daerah Bugis, yaitu di Segeri kabupaten Pangkajene Kepulauan, menemukan corak haji orang-orang Bugis yang telah mengalami perjumpaan antara ajaran Islam, tradisi lokal dan modernitas.


Perjumpaan ini melahirkan corak haji yang unik, sebab diekspresikan dengan cara-cara lokal di satu sisi, sekaligus dipengaruhi modernitas di sisi yang lain. Dalam ekspresi semacam itulah ditemukan praktik yang disebut Haji Bawakaraeng, Haji Calabai (Haji Waria) dan Haji Pa’gaya (Haji yang suka bergaya).

Baca Juga:

  1. Diperiksa Kasus ‘Stupa Jokowi’, Roy Suryo Penuhi Panggilan Polda Metro
  2. Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina
  3. Pesan Menyentuh Sri Mulyani Kepada PNS yang Dapat Gaji ke-13 1 Juni 2022

Tetapi di saat yang sama juga ditemukan Haji yang sarat dengan nuansa hikmah, misalnya haji sebagai were na pammase (Haji sebagai takdir dan Rahmat Tuhan) dan haji sebagai assenu-senungeng (ritual haji adalah simbol pengharapan terhadap hal yang baik).

Keseluruhan praktik haji semacam itu mencerminkan sebuah praktik keberislaman ala Bugis, yang disebut dengan “Aji Ugi”. Aji Ugi ini menjadi semacam ekspresi Islam lokal yang sekaligus universal, Islam tradisional sekaligus modern.

Bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa yang sangat penting. Banyak suku lain yang kadang heran melihat antusias orang Bugis untuk naik haji. Bagi orang Bugis, pergi haji adalah sebuah kebanggaan.

Faktanya sangat jelas, di kawasan Sulawesi Selatan dan wilayah lain di sekitarnya seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah antrian pergi haji sudah sangat panjang dan kerap kali disebut tidak masuk akal.

Misalnya saja di Kota Parepare dan Kota Makassar daftar tunggu haji menjadi 84 tahun. Bahkan di Kabupaten Banteng, daftarnya tunggunya bisa mencapai 97 tahun. Tentunya ini sempat membuat geger masyarakat.

Namun bagi orang Bugis, lamanya masa menunggu itu bukanlah suatu hambatan. Pergi haji memang bukan saja sebagai perjalanan spiritual sebagai umat Islam. Beberapa dari mereka menganggapnya sebagai kehormatan.

Masyarakat Bugis sangat kental dengan upacara sosial, seperti kelahiran, pernikahan dan kematian. Bahkan dalam membangun rumah baru dan punya kendaraan baru, mereka kerap pula dirayakan.

Demikian pula ketika naik haji, bagi sebagian besar orang Bugis, naik haji merupakan peristiwa sakral yang mesti ada ritualnya. Walau harus menambah biaya, tentunya hal ini tidak boleh dilewatkan bagi orang Bugis.

Aji Ugi

Ada tiga tahapan ritual (calon) jamaah haji bagi orang Bugis, yaitu ritual persiapan pemberangkatan, ritual selama jamaah haji berada di Tanah Suci, dan ritual setelah jamaah haji pulang ke tanah air.

Misalnya saat persiapan pemberangkatan mereka akan menggelar ritual selamatan atau syukuran (massalama-mammanasik), mengisi tas (mallises tase), dan ritual pemberangkatan (mappangnguju)

ketika sudah sampai di Tanah Suci, orang Bugis akan menampung air dari talang emas (jampi ulaweng), memburu kiswa Ka’bah, mencium Hajar Aswad, dan pemasangan kopiah atau kerudung haji (mappatopo).

Sementara pada tahap terakhir, saat pulang ke Tanah Air akan digelar syukuran (assalama sukkuru), melepas nazar (assalama tinja), mendoakan leluhur yang dilanjutkan ziarah makam (mappigau to riolo).

Continue Reading

Pojok

Etika dan Estetika Blangkon, Budaya Berbusana Masyarakat Jawa yang Sarat Unsur Feodalistik

Published

on

ilutsrasi orang memakai blankon

Sejak zaman pra sejarah, manusia indonesia sudah beradaptasi salah satunya dengan pakaian, sebagai pelindung badan dari panas, dingin, gangguan serangga, dan benda tajam.

Pakaian mempunyai fungsi keindahan dan juga melindungi bagian-bagian tertentu dan pakaian dapat memberikan kenyamanan.

Disamping itu pada zaman sekarang ini pakaian juga menunjukkan identitas, kedudukan seseorang. Bagi orang Jawa salah satu kelengkapan berbusana adalah tutup kepala atau Blangkon.

Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai kelengkapan dari pakaian tradisional Jawa.

Selain sebagai pelindung terhadap sinar matahari Blangkon juga mempunyai fungsi sosial yang menunjukkan martabat atau kedudukan sosial bagi pemiliknya.

Sebagian besar masyarakat Jawa menjadikan Blangkon sebagai simbol atau ciri khas dan konon dulunya digunakan sebagai pembeda antara kaum ningrat Kraton dengan masyarakat jelata yang hanya memakai Iket sebagai penutup kepala.

Masyarakat Jawa beranggapan bahwa kepala lelaki mempunyai arti penting, sehingga pelindung kepala lelaki sebagai penutup tubuh yang amat diutamakan, sehingga masyarakat Jawa kuno menggunakan Blangkon sebagai pakaian keseharian dan dapat dikatakan pakaian wajib.

Dulu blangkon bernama Iket, iket wujud dan kegunaannya sama dengan blangkon, akan tetapi masih berwujud kain motif batik tertentu, dan cara menggunakannya dililit dan di bentuk sedemikian rupa.

Menurut perkembangan nya blangkon menjadi simbol bagi kaum pria Jawa, dibalik bentuknya yang sederhana blangkon memiliki makna yang cukup tinggi, makna keindahan dari blangkon dapat dilihat dari motif dan bentuk dari blangkon itu sendiri, makna etika juga dapat dilihat dari keseharian masyarakat Jawa. 

Pada era modernisasi sekarang ini banyak budaya, adat, dan segala sesuatunya masuk ke tanah Jawa, sehingga memberikan dampak terhadap kebiasaan, pola pikir, dan lain sebaginya, sehingga tidak bisa dipungkiri lagi terjadinya sedikit pergesekan budaya, dan itupun tidak dapat dihindari.

Blangkon adalah salah satu yang terkena dampaknya, dimana yang awalnya blangkon merupakan simbol kebanggaan dari kaum pria Jawa, tergeser oleh produk produk barat yang sangat cepat berkembang, sehingga jarang terlihat kaum pria Jawa memakai blangkon.

Pada jaman dahulu, blankon memang hanya dibuat oleh para seniman yang ahli dengan pakem (aturan) tentang iket. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya.

Adupun tujuan dibuatnya blangkon pola solo maupun yogyakarta adalah sebagai pelindung kepala dari sinar matahari, dan hujan; blangkon sebagai kelengkapan pakaian tradisional jawa dan sebagai wujud keindahan.

Tentang keindahan, kesabaran, dan ketelitian dalam Blangkon, Ranggajati Sugiyatno, pakar blangkon di Solo mencontohkan, sebuah blangkon yang bagus bias memiliki 14 hingga 17 wiru (lipatan) yang rapi di kanan-kiri.

Tanpa kesabaran dan ketelitian yang besar, sangat mustahil blangkon tersebut bisa diselesaikan. Keindahan blangkon juga bias dilihat dari kain batik selebar 105cm x 105cm sebagai bahan dasar blangkon.

Tidak ada catatan sejarah yang pasti akan asal muasal orang Jawa memakai iket sebagai penutup kepala. Iket telah tersebut dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu dimana Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa.

Selain itu, ada cerita-cerita bahwa iket adalah pengaruh budaya Hindu dan Islam. Para pedagang dari Gujarat yang keturunan Arab selalu mengenakan sorban, kain panjang yang dililitkan di kepala, yang kemudian menginspirasi orang Jawa memakai ikat kepala seperti mereka.

Cerita lain mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit didapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu blangkon.

Orang jawa tempo dulu menggunakan penutup kepala berupa blangkon, karena pada saat itu mereka menganggap bahwa dalam berpakaian adat jawa akan lebih terlihat pantas dan lebih berwibawa apabila pada bagian kepala menggunakan sebuah penutup kepala yaitu blangkon, memakai Blangkon membuat pria lebih berwibawa dan orang yang melihatpun akan mersa senang.

Pada perkembangannya, blangkon yang awalnya menjadi pelindung kepala yang mempunyai nilai filosofis, tinggi bagi orang Jawa, kepala, rambut dan wajah adalah mahkota, bagian yang terpenting dan terhormat dari tubuh manusia.

Baca Juga:

  1. Keris dan Perubahan Budaya bagi Masyarakat Jawa
  2. Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme
  3. 6 Rumah Adat Jawa Barat Beserta Filosofi Luhurnya

Kebanyakan orang Jawa dahulu memanjangkan rambutnya namun tidak membiarkannya tergerai acak-acakan begitu saja. Rambut biasanya digelung atau diikat dengan ikatan kain, yang saat ujung ikatan kain tersebut diikat dibelakang kepala bermakna filosofis berupa peringatan untuk mampu mengendalikan diri.

Pria Jawa jaman dahulu hanya membiarkan rambutnya tergerai hanya saat berada di rumah atau dalam sebuah konflik, misal perang atau berkelahi.

Membuka ujung ikatan kain di belakang kepala (atau membuka tutup kepala) yang berakibat tergerainya rambut adalah bentuk terakhir luapan emosi yang tak tertahan. Jadi iket atau blangkon adalah perwujudan pengendalian diri.

Saat agama Islam masuk ke tanah Jawa, blankon dikaitkan dengan nilai transedental. Di bagian belakang blangkon pasti ada 2 ujung kain yang terikat, yang satu ujung kain merupakan simbol dari syahadat Tauhid dan satu ujung lain adalah syahadat Rasul dan terikat menjadi satu bermakna menjadi syahadatain.

Setelah terikat, kemudian dipakai di kepala, di bagian yang bagi orang Jawa adalah bagian terhormat, artinya syahadat harus ditempatkan paling atas. Pemikiran apapun yang keluar dari kepala harus dilingkupi oleh sendi-sendi Islam.

Secara umum, terdapat jenis blangkon, yaitu yang mempunyai mondolan yang berarti tonjolan dan trepes yang berarti rata. Pada awal iket dipergunakan sebagai tutup kepala, banyak pria Jawa yang berambut panjang sehingga harus digelung terlebih dahulu sebelum ditutup dengan iket.

Gelung rambut ini lah yang kemudian mondol, menonjol, dan disembunyikan dibawah iket. Rambut dalam nilai filosofi orang Jawa yang sudah disebutkan diatas adalah representasi perasaan.

Rambut dibawah iket adalah perasaan yang disembunyikan, yang harus dijaga rapat-rapat, menjaga perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain.

Sebagai bagian dari taktik devide et impera, VOC menengahi dan memanfaatkan konflik internal kerajaan Mataram. Setelah ditandatanganinya perjanjian Gianti (1755) Kesultanan Mataram terbagi menjadi dua yaitu Yogyakarta dan Surakarta.

Masyarakat di kedua daerah ini kemudian tumbuh dengan caranya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah pria Jogya masih berambut panjang dan menggelung rambutnya, sementara pria Surakarta karena lebih dekat dengan orang-orang Belanda terlebih dahulu mengenal cara bercukur.

Walaupun kemudian orang mulai banyak berambut pendek dan menggunakan blangkon (tidak lagi iket), untuk sebuah pembedaan maka dibuatlah mondholan yang dijahit langsung pada blangkon dari Jogja. Itu mengapa blankon dengan mondolan dapat ditemukan di Jogja, sementara yang trepes ditemukan di Solo.

Continue Reading

Sosial-Budaya

Eksistensi Kampung Adat Dukuh Garut di Tengah Gempuran Modernisasi

Published

on

rumah adat di Garut

Asal mula nama kampung Dukuh berhubungan erat dengan sejarah seorang Syekh yang bernama Syekh Abdul Jalil yang disuruh kembali ke tanah Jawa ketika dia berada di Mekkah.

Ketika Syekh Abdul Jalil diperintahkan oleh gurunya untuk kembali ke tanah Jawa, dia menolak keinginan gurunya dengan alasan Syekh Abdul Jalil ingin wafat di tanah Mekkah dan selalu berharap dimandikan dengan air yang ada di Mekkah.

Kemudian sang guru menyuruh Syekh Abdul Jalil untuk membawa tanah dan air Mekkah untuk membawanya pulang ke tanah Jawa dan mencari tempat yang cocok untuk djadikan tempat menetap sesuai apa yang dikehendakinya.

Setelah berada di tanah Jawa Syekh Abdul Jalil kemudian mencari tempat untuk menetap sesuai apa yang dinasehati gurunya dengan membawa tanah dan air dari Mekkah.

Pada akhirnya Syekh Abdul Jalil sampai di daerah yang bernama Nagara Pameungpeuk dan mentep disana selama satu tahun untuk bermunajat.

Di tempat tersebut dia menerima wangsit yang selama satu tahun dia tunggu-tunggu, yaitu dia melihat cahaya yang muncul dari dalam tanah menuju ke atas dan menuju tempat dimana sekarang kampung Dukuh berada, yaitu di desa Ciroyom Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut Selatan.

Ketika Syekh Abdul Jalil sampai di tempat tersebut, kampung tersebut sudah ada yang menunggu sepasang kakek nenek yang bernama aki Chandra dan nini Chandra yang berasal dari wilayah Cidamar Cianjur Selatan.

Mulanya kampung Dukuh bernama Padukuhan sama dengan istilah padepokan yang berarti tempat yang baik untuk menetap.

Kata Dukuh berarti calik atau “duduk” dalam bahasa Indonesia, berasal dari Padukuhan yang artinya tempat bermukim atau tempat yang baik untuk bermunajat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ada juga tokoh Dukuh yang mengartikan kata Dukuh dengan istilah “tukuh” yang berarti “patuh”, patuh dalam menjaga dan menjalankan adat istiadat nenek moyangnya, dengan istilah matuh yaitu teguh kana katentuan-katentuan, serta “kukuh” yaitu kuat.

Cerita asal mula atau asal usul keberadaan Kampung Dukuh ini merupakan cerita yang turun temurun dan tidak ada sumber secara tertulis.

Awal mula keberadaan masyarakat Kampung Dukuh sendiri masih belum jelas dan tidak ada yang mengetahui secara pasti. Menurut apa yang dituturkan kuncen dan cerita yang berkembang secara turun temurun di masyarakat Dukuh.

Masyarakat Dukuh yang sekarang menetap di sana mereka adalah keturunan dari Eyang Dukuh yang merupakan kuncen pertama Kampung Dukuh. Kuncen pertama Kampung Dukuh adalah murid atau pengikut pertama Syekh Abdul Jalil.

Berita tentang keberadaan masyarakat Kampung Dukuh berawal sekitar tahun 1980-an ketika jabatan kuncen dipegang oleh Mama Bani (kuncen ke-13).

Beliau kedatangan tamu dari perguruan Pencak Silat Jawa Barat yang menceritakan awal mula keberadaan orang Dukuh berasal dari keturunan pengikut Syekh Abdul Jalil.

Pengikut Syekh Abdul Jalil berasal dari pasukan Prabu Siliwangi yang dalam ceritanya ketika Prabu Siliwangi dikejar oleh anaknya iaitu Kian Santang dan mengalami kekalahan di hutan Sancang, dan Prabu Siliwangi berkata bahawa “Silahkan ambil harta dan sebagainya, tetapi pengikut saya yang berjumlah 30-40 orang jangan dibunuh”.

Setelah peristiwa itu pengikut Prabu Siliwangi berpencar ke tiga arah, ada yang sampai ke Cibeo yang sekarang menjadi Kampung Adat Baduy, kemudian sebagian ke arah timur daerah Kaliyoso Jawa Tengah dan sebagian lagi menuju ke Kampung Dukuh, yang pada waktu itu di Kampung Dukuh sudah ada Syekh Abdul Jalil dan mengajarkan agama Islam kepada mereka sampai tutup usia.

Cerita ini dipercaya oleh orang Dukuh sebagai cerita keramat yang dituturkan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Adat Istiadat Masyarakat Kampung Dukuh

Secara administratif kampung Dukuh terbagi kepada dua bagian wilayah, yaitu Dukuh Luar dan Dukuh Dalam. Pusat yang menjadi sentral ritual dan yang masih mempertahankan adat istiadatnya adalah Dukuh Dalam karena kuncen sendiri rumahnya berada di Dukuh Dalam.

Selain itu orang yang tinggal di Dukuh Dalam mempunyai keterikatan adat yang harus dipatuhi oleh penduduk Dukuh Dalam.

Contoh larangan yang berlaku di Dukuh Dalam adalah rumah-rumah di Dukuh Dalam tidak boleh menggunakan listrik, rumah harus berbentuk panggung, berdinding papan kayu atau bilik anyaman bambu, dan beratap rumbai ilalang atau orang sekitar menyebutnya atap ijuk.

Adat-adat yang lain yang harus dipatuhi adalah pintu rumah harus menghadap ke timur dan barat, dan jendela tidak boleh menggunakan kaca.

Selain dalam bangunan rumah, adat istiadat juga berpengaruh kepada keberagamaan, salah satu contohnya pemberitahuan waktu shalat tidak menggunakan lafadz adzan akan tetapi diberitahukan dengan memukul bedug dan kentongan karena di Dukuh Dalam dilarang menggunakan listrik sementara pengeras suara sumbernya dari aliran listrik.

Baca Juga:

  1. Renovasi Alun-Alun Gresik: Ambisi Penguasa Menghilangkan Jejak Sejarah dan Budaya Kota Gresik
  2. Seribu di Saku Rantau, Kehidupan Orang-orang Minangkabau di Surabaya
  3. Keunikan Kampung Naga: Menjaga Alam, Menyeimbangkan Lingkungan

Menurut Najar dalam Ilmu Jiwa dalam Tasawuf Perilaku mereka menggambarkan sikap kesederhanaan atau sikap zuhud.

Berdasarkan pemahaman tasawuf yang mereka pelajari. Untuk mempelajari aturan-aturan hukum kemasyarakatan dalam hal hukum yang berkembang dalam masyarakat yang tinggal di kampung adat, untuk mempelajarinya dengan dimulai pengenalan tentang susunan masyarakat, kemudian mengeksplorasi kelembagaan dan norma-norma hukum yang berlaku di sana.

Adat yang terdapat di Kampung Dukuh sekarang sudah mengalami beberapa kelonggaran hukum, karena terjadi perubahan-perubahan yang disebabkan sebagai pelanggaran karena tidak sesuai lagi dengan adat pendahulunya, sehingga ketika warga adat yang melanggaran aturan adat Dukuh Dalam akan diberikan sanksi dalam berbagai bentuk sesuai bentuk aturan yang dilanggarnya.

Keyakinan kuncen dan masyarakat Kampung Dukuh terhadap orang yang melanggar aturan adat baik orang dalam Dukuh ataupun orang pendatang dari luar akan merasakan ada akibatnya sendiri dan mereka meyakini hukuman yang yang akan datang kepada si pelanggar bersifat ghaib serta tidak bisa diketahui secara pasti seperti apa bentuk sanksinya.

Kuncen menyebutkan sanksinya bisa jadi kematian mendadak, diserang serangga, kemasukan penyakit aneh, mengalami kebutaan, ataupun mendapatkan penyakit kejiwaan.

Selain sanksi yang bersifat batin, orang yang melanggar aturan adat akan diberi sanksi yang bersifat lahir yang akan diberikan langsung oleh kuncen Dukuh.

Salah satu bentuk hukuman bagi orang yang melanggar aturan adat adalah pengasingan dari kehidupan sosial, sanksi ini berlaku bagi warga Kampung Dukuh sendiri.

Sedangkan bagi orang luar yang melanggar aturan adat adalah larangan masuk kembali ke Kampung Dukuh.

Continue Reading

Latest News

CityView4 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan5 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout5 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti5 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling5 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok5 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur5 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori5 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling5 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional5 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional5 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti5 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional5 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update5 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional5 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional5 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle5 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView5 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout5 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis5 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi5 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya5 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView5 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional5 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional5 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending