Connect with us

CityView

Keunikan Kampung Naga: Menjaga Alam, Menyeimbangkan Lingkungan

Published

on

kampung naga

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Secara geografis, Kampung Naga terletak di sebuah lembah yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer dari jalan raya dengan ketinggian 488 meter dari permukaaan laut. Wilayah ini terdiri atas lahan permukiman, lahan persawahan, empang, bukit dan hutan.

Kampung Naga memiliki keunikannya tersendiri seperti kampung-kampung lain di Indonesia. Salah satunya adalah tinjuan arsitektur serta budaya kampungnya. 

Kampung Naga seolah menjelaskan bahwa kesederhanaan tradisi yang didasari oleh hubungan manusia dan alam telah menjadi identitas dari masyarakat Kampung Naga sebagai kearifan lokal dan tercermin dalam arsitektur rumah tinggal.

Rumah tinggal di Kampung Naga memiliki keunikan yang berasal dari kesederhanaan tatanan masa, desain struktur dan material. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tatanan masa rumah tinggal di Kampung Naga memiliki pola linear. Bangunan rumah tinggal menggunakan pondasi umpak dengan material batu kali dan desain atap jolopong dengan rangka kayu.

Kawasan wilayah Kampung Naga memiliki 3 kawasan yaitu kawasan suci, kawasan bersih, dan kawasan kotor. Kawasan suci yang terdiri dari hutan keramat dan makam leluhur berada pada bagian teratas atau utara kampung.

Kawasan bersih yang terdiri dari rumah penduduk berada di bagian tengah kampung dengan pola tatanan masa horizontal di sepanjang tapak, selain rumah tinggal ada pula bangunan publik seperti masjid, bale patemon dan bumi ageung yang berada di tengah kampung dan berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat.

Kawasan kotor yang terdiri dari MCK, kandang ternak, kolam ikan dan lumbung padi berada di bagian terbawah tepat di tepi sungai Ciwulan atau bagian selatan kampung.

Norma adat yang masih dipegang teguh masyarakat Kampung Naga diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi salah satunya adalah norma dalam membangun rumah tinggal.

Kampung Naga memiliki aturan tersendiri di mana perizinan dalam membangun diatur oleh kuncen atau ketua adat, selain kuncen pihak lain yang terlibat dalam pembangunan rumah tinggal di Kampung Naga adalah dulah (arsitek kampung) dan masyarakat sekitar yang ikut berpartisipasi.

Karena keunikan tersebut, Kampung Naga perlahan dilirik oleh wisatawan guna berlibur menghabiskan waktu di sana.  

Pengembangan Pariwisata di Kampung Naga sudah berlangsung sejak tahun 1970-an (Nugraha, 2018). Saat itu, mulai banyak wisatawan yang mengunjungi Kampung Naga terutama pelajar atau dari berbagai sekolah.

Bahkan banyak juga pelajar dari luar negeri seperti Swedia, Perancis, dan Belanda dengan tujuan beragam, seperti untuk melakukan penelitian, mempelajari kebudayaan, dan berbagi ilmu.

Baca Juga:

  1. Hadirnya Kampung Inggris di Bandung
  2. Kampung Gelgel, Desa Islam Tertua di Pulau Dewata
  3. Mengintip Desa Aeng Tong-Tong, Kampung Penghasil Keris Terbanyak di Dunia

Kemudian pada 1980-an mulai berdatangan mahasiswa dalam negeri dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Udayana untuk meneliti berbagai seluk beluk kebudayaan di Kampung Naga.

Hal ini sebagai bukti bahwa Kampung Naga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya dan edukasi.

Mengetahui besarnya potensi wisata tersebut, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bekerja sama dengan Pemerintah Desa Neglasari untuk melakukan penyuluhan mengenai manfaat positif dari aktivitas pariwisata di Kampung Naga.

Pengembangan pariwisata di Kampung Naga saat ini telah sampai pada tahap involvement (keterlibatan) berdasarkan teori tourism area life cycle (siklus hidup destinasi)

Di Kampung Naga, sudah terdapat beberapa fasilitas wisata seperti pintu gerbang, area parkir, musholla, toilet umum, warung telepon, listrik, sarana air bersih, kios cenderamata, serta tangga menuju lokasi Kampung Naga.

Hingga saat ini, ada juga perusahaan yang memberikan dana Coorporate Social Responsibility (CSR) kepada Kampung Naga.

Fasilitas wisata lainnya yang terdapat di Kampung Naga adalah akomodasi. Di Kampung Naga terdapat satu buah homestay di area lahan parkir yang bernama Homestay Inap Keluarga.

Kapasitas di homestay tersebut terus meningkat, berawal dari dibawah 100 orang, kemudian 150 orang, lalu bertambah menjadi kapasitas untuk 200 orang, dan sekarang berkapasitas untuk

250 orang. Pertambahan kapasitas tersebut secara bertahap karena harus memperhatikan fasilitas lainnya juga seperti toilet dan warung makan.

Selain dapat menginap di homestay, wisatawan juga diperbolehkan untuk menginap di rumah warga.

Ketika wisatawan datang, akan disambut oleh pemandu wisata di Kampung Naga dan diarahkan ke rumah yang sudah ditentukan. Kemudian, malamnya akan diadakan pertemuan dengan sesepuh Kampung Naga dan dipersilahkan untuk melakukan tanya jawab.

Lalu, keesokan harinya wisatawan dipersilahkan untuk melakukan observasi lapangan dengan berkeliling di sekitar kampung.

Wisatawan yang dapat menginap di Kampung Naga, hanyalah yang memiliki tujuan untuk belajar atau meneliti. Untuk menginap di Kampung Naga, wisatawan harus mengirimkan surat izin penelitian

kepada ketua adat Kampung Naga. Maksimal menginap di kampung ini selama dua malam, demi menjaga kebudayaan di Kampung Naga agar terus lestari.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CityView

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Published

on

IKN Nusantara

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini dipilih karena dianggap sukses dengan program pemindahan ibukota barunya yang menerapkan banyak konsep smart city.

Pemerintah terus mematangkan berbagai rencana, konsep, hingga berbagai hal teknis terkait pengembangan ibukota negara (IKN) Nusantara. Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti, Kementerian PUPR akan menjadi institusi tumpuan awal pembangunan IKN dan karena itu banyak hal yang hasur dipersiapkan khususnya terkait SDM yang andal dan kompeten.

“Dibutuhkan banyak SDM yang bukan hanya andal tapi berintegritas dalam pelaksanaan penyelenggaraan pembangunan IKN Nusantara dan itu menjadi agenda yang wajib dilakukan. Untuk itu kami melakukan terobosan dengan menyiapkan dan mengirim insan Kementerian PUPR untuk belajar pengembangan IKN ke Korea Selatan,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Begini Upaya Pemerintah Atasi PMK pada Hewan Ternak Jelang Idul Adha
  2. 5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia
  3. 5 Cara Menenangkan Hati yang Gelisah Menurut Islam

Korea Selatan dipilih karena termasuk negara yang berhasil dan mumpuni dalam membangun ibukota baru. Sharing pengalaman ini dibutuhkan untuk pengembangan IKN khususnya untuk penerapan lima teknologi baru yang telah sukses dilaksanakan di Korea Selatan.

Pelatihan awak Kementerian PUPR ini juga merupakan kerja sama teknis antara Kementerian PUPR dengan Ministry of Land, Infrastructure and Transport (MOLIT) Korea Selatan dalam rangka meningkatkan kapasitas pegawai Kementerian PUPR sebagai pelaksana pembangunan IKN. Pelatihan ini diikuti oleh 25 orang awak Kementerian PUPR yang akan berlangsung hingga akhir Agustus 2022.

Ke-25 orang ini dipilih dari 94 orang yang diusulkan dari delapan unit organisasi di Kementerian PUPR. Para peserta pelatihan ini terdiri dari 15 orang dengan latar pendidikan teknis dan 10 orang dengan latar pendidikan non teknis sehingga ada kolaborasi antara teknis dan non teknis dalam pengembangan IKN Nusantara.

“Pelatihan ini juga bukan pelatihan biasa. Peserta sudah harus memiliki dasar pengetahuan yang baik tentang smart city concept yang pro-IKN. Satuan Tugas (Satgas) IKN juga diharapkan dapat mengawal pelatihan ini dan mendampingi peserta agar konsep smart city IKN ini dapat terwujud di Indonesia,” imbuhnya.

Continue Reading

CityView

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Published

on

Desa Bubakan

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata tukang bakso, membuat profesi itu beberapa hari kebelakangan ini menjadi perbincangan hangat di meda sosial.

“Jadi ketika saya mau punya mantu nih, saya sudah bilang sama anak saya tiga (orang), awas loh kalau nyarinya yang kayak tukang bakso,” ungkap Megawati dalam pidatonya itu.

Hal ini pun langsung menimbulkan beragam reaksi dari para warganet. Mereka geram karena Megawati dianggap tidak simpati dalam melontarkan pernyataannya itu. Sementara itu, ada juga yang menilai itu hanya sebuah gurauan dan tidak mempermasalahkannya.

Berbicara mengenai tukang bakso, diketahui daerah penghasil bakso yang paling populer di Indonesia adalah Wonogiri. Jika kalian berkunjung ke desa Bubakan, Wonogiri akan dapat menyaksikkan kesuksesan para tukang bakso tersebut.

Baca Juga:

  1. Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi Melalui Cagar Buah Condet
  2. Asal-usul Senayan, Tempat Adu Ketangkasan Berkuda yang Kini Jadi Jantung Jakarta
  3. Asal-usul Nama Ancol & Awal Mula Berdirinya di Indonesia

Sebab daerah itu merupakan kampung para tukang bakso wonogiri yang mencari rezeki di tanah rantau. Desa Bubakan pun saat ini dipenuhi dengan rumah mewah layaknya villa yang begitu megah.

Dibandingkan dengan kampung lainnya, kampung ini memang tampil lebih mencolok, seperti yang dimuat dari Tribun Solo. Di mana kalian bakal menemui rumah mewah dengan dua lantai di desa yang keberadaannya cukup pelosok itu.

Rumah mewah ini dapat menjadi bukti betapa suksesnya warga Bubakan di tanah perantauan dalam menjual bakso. Sekretaris Desa Bubakan, Suparto pun membenarkan 70 persen warganya merupakan perantauan.

“Penduduk Desa Bubakan ada sekitar 5 ribu orang, yang tersebar di 10 dusun. Dan mayoritas mereka adalah perantauan,” tuturnya.

Tak ayal jika rumah-rumah megah yang berdiri di desa itu nampak kosong. Hal ini dikarenakan pemiliknya yang meninggalkan rumah tersebut untuk merantau ke kota lain. Mereka biasanya hanya kembali ke desa untuk meronvasi rumah saja, setelah itu kembali lagi mencari nafkah dengan berjualan bakso di tanah rantau.

Di sisi lain, desa ini sebenarnya pada zaman dahulu merupakan desa yang tertinggal. Namun, seorang pengusaha asal Sukoharjo bernama Mbah Joyo mengajak warga desa untuk merantau pada tahun 1980 an. Hingga akhirnya mereka belajar membuat bakso dan jamu yang kemudian mendirikan usaha mereka sendiri-sendiri.

Continue Reading

CityView

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Published

on

ilustrasi gangster

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa kebosanan dengan berjalan-jalan di malam hari dengan teman-teman, saat ini klitih dimaknai sebagai tindakan atau aksi kriminal yang dilakukan oleh para remaja.

Fenomena ini cukup mirip dengan tawuran ataupun aksi begal, yang memakan korban. Begitupula dengan pelakunya, cukup mirip dengan pelaku aksi tawuran maupun begal, yaitu pelajar SMP-SMA.

Para pelaku juga biasanya melakukan klitih atau nglitih secara berkelompok, tidak ada yang melakukannya sendirian. Hal ini yang mendorong mereka untuk melakukan aksi-aksi yang lebih ekstrim seperti melukai orang.

Dalam tahapan perkembangan, masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri serta pembentukan citra diri.

Biasanya mereka akan mencari kelompok-kelompok tertentu yang sesuai dengan minat mereka atau kelompok yang mereka anggap sebagai citra ideal bagi remaja untuk mendapatkan pengakuan.

Jika mereka mendapatkan pengakuan dari teman-teman kelompoknya, maka secara bertahap akan membentuk identitas dan citra mereka.

Hal ini akan membentuk perasaan diterima dalam sebuah kelompok (in-group) yang akan berpengaruh pada pembentukan citra diri.

Sebaliknya jika tidak mendapatkan pengakuan tersebut, mereka akan teralienasi dari kelompok remaja yang mereka anggap ideal (out-group) dan akan berdampak negatif pada pembentukan citra diri.

Dalam kelompok klitih, para remaja ini saling “mendorong” teman-teman kelompoknya untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Fenomena ini juga dapat dilihat dari bagaimana maskulinitas yang selalu disalahartikan sebagai citra ideal laki-laki.

Baca Juga:

  1. Reorganisasi dan Pembangunan Pasar Senen: Upaya Menata Ruang Kota Jakarta
  2. Sabung Ayam: Kebiasaan Aneh Mengadu Ayam ala Indonesia
  3. Menikmati Harmoni Jogja dengan Bersepeda

Masih banyak yang beranggapan bahwa citra masukulin laki-laki identik dengan kekerasan. Jika ingin menyelesaikan masalah antar laki-laki, sering disebut dengan “kita selesaikan secara laki-laki”.

Padahal sebenarnya tidak semua laki-laki memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tidak semua laki-laki menginginkan penyelesaikan masalah dengan cara kekerasan.

Jika dikaitkan dengan bagaimana para remaja sedang dalam proses pembentukkan citra diri, masing-masing dari mereka pun berusaha untuk membentuk citra ideal maskulinitas yang masih disalahartikan tersebut.

Kebanyakan dari para pelaku klitih menyebutkan bahwa mereka merasa terdorong untuk mendapatkan pengakuan sebagai sekolah atau kelompok yang paling kuat.

Tentu saja jika pemahaman mengenai maskulinitas masih disalahartikan fenomena ini tidak akan berkurang. Sebab, dorongan atau paksaan dari lingkungan dapat menyebabkan remaja laki-laki ini pada akhirnya mengikuti ajakan kelompok mayoritas kareana ketakutannya ketika nanti menjadi korban rundungan. Mereka yang tidak ikut “nglitih” akan dianggap kurang laki-laki dan akan mengalami perundungan.

Hal ini tentunya dapat berdampak pada citra diri remaja laki-laki tersebut. Selain itu, pada dasarnya banyak juga laki-laki yang tidak bisa menunjukkan citra ideal maskulinitas, sehingga mereka dianggap ‘lemah’ oleh orang lain dan bahkan mereka sendiri merasa tertekan karena ‘gagal’ memenuhi tuntutan ideal tersebut.

Sehingga salah satu cara menunjukkan mereka masih punya ‘power’ atau masih bisa disebut sebagai laki-laki, salah satunya lewat kekerasan ataupun mengikuti perkumpulan yang dinilai memiliki “power” sebagai wujud pembuktian dirinya.

Bagaimana mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi di kemudian hari? Saat ini hukuman yang didapatkan oleh para pelaku klitih pun seolah tidak ada efek jera, karena mereka (pelaku) atau bahkan lingkungan beranggapan perilaku ini merupakan kenakalan remaja pada umumnya.

Padahal sebenarnya fenomena ini perlu dibenahi dari akarnya, yaitu citra maskulinitas yang keliru. Selain itu, pendekatan yang menyeluruh, artinya ikut melibatkan lingkungan keluarga, sekolah, dan juga pemerintah perlu dilakukan.

Hal ini tentu saja untuk membantu pelaku dan juga masyarakat lain lebih memahami mengenai kekerasan itu sendiri dan juga masing-masing dari kita bisa lebih menghargai dan menjaga satu sama lain.

Tentunya dengan menyadari betul apa yang sedang terjadi dan memahami bahwa yang terjadi saat ini bukan hanya seolah kenakalan remaja yang ‘salah gaul’. Kita perlu mulai berefleksi mulai dari diri sendiri. 

Caranya sederhana saja, jika ada teman atau kenalan yang ingin bercerita (baik laki-laki ataupun perempuan), tidak perlu kita berkomentar negatif dan menisyaratkan bahwa bercerita merupakan tanda kelemahan yang sering kali diindentikkan dengan perempuan.  

Kita bisa mulai menghindari komentar-komentar yang berbau seksis terlebih dahulu lalu menularkan atau menurunkannya ke anak anak kita atau lingkungan kita.

Lalu ikut libatkan laki-laki untuk menurunkan angka kekerasan dan kejadian-kejadian seperti ini. Laki-laki juga merupakan agen perubahan perilaku.

Sehingga dalam hal ini mereka mampu memberikan contoh baik, bagaimana citra maskulin.

Misalnya terlibat dalam pengasuhan anak, berbagi peran dengan istri, bantu pekerjaan domestik ibu di rumah, dan lain-lain.

Continue Reading

Latest News

CityView2 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan2 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout3 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti3 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling3 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok3 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur3 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori3 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling3 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional3 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional3 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti3 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional3 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update3 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional3 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional3 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle3 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView3 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout3 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis3 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi3 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya3 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView3 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional3 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional3 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending