NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme - Portal Berita MyCity Depok
Connect with us

Histori

Kartini dan Kondisi Sosial Budaya Perempuan Jawa dalam Jerat Feodalisme

Published

on

ilustrasi Kartini

Kata perempuan berasal dari kata empu, yang bermakna dihargai, dipertuan, atau dihormati, sedangkan kata wanita berasal dari wan yang berarti nafsu, dalam Bahasa Jawa (Jawa Dorsok) kata wanita berarti berani ditata. 

Menurut S. Margana dan Nursam dalam buku Kota-Kota di Jawa: Identitas, Gaya Hidup dan Permasalahan Sosial, karakter perempuan Jawa sangat identik dengan budaya Jawa seperti bertutur kata halus, tenang, diam (kalem), tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan, pengendalian diri tinggi, daya tahan untuk menderita tinggi, memegang peranan secara ekonomi dan setia.

Beberapa ciri khas orang Jawa lainnya yaitu sabar lan neriman (sabar dan menerima dengan lapang dada).

Sikap tersebut membuatsebagian besar perempuan Jawa selalu menerima apa yang telah menjadi kodratnya sebagai seorang perempuan.

Meskipun hal itu justru membuat perempuan Jawa cenderung dianggap lemah kedudukannya jika dibandingkan dengan laki-laki.

Ada beberapa konsepsi paternalistik yang berkembang dalam masyarakat Jawa bahwa perempuan Jawa sebagai istri adalah konco wingking. 

Istilah konco wigking tersebut berarti bahwa perempuan berada di belakang laki-laki. Seolah kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan dengan kedudukan laki-laki.

Cora Vreede-de Stuers dalam buku Sejarah perempuan Indonesia Gerakan dan Pencapaianya menulis, pada masa penjajahan, ada beberapa peraturan yang mengekang warga Indonesia sehingga menciptakan sebuah kelas-kelas tertentu.

Salah satu dari peraturan itu mengatakan bahwa, seorang yang terpandang dalam masyarakat dan menjabat sebagai pemimpin harus menikahi seorang yang berdarah ningrat juga.

Dari sini dapat disimpulkan ada kelas-kelas tertentu yang mempunyai keistimewaan, sedangkan para kaum pribumi yang tak mempunyai kekuasaan hanya dapat menerima apa yang di tentukan oleh pihak penjajah.

Sehingga dengan adanya peraturan tersebut mau tidak mau Sosroningrat harus menikah lagi dengan putri seorang bangsawan. Hal itu berdampak pada R.A. Ngasirah yang berasal dari keluarga biasa, sehingga ia harus menerima keputusan tersebut dan rela untuk dipoligami.

Budaya poligami, pingitan, perjodohan dan berbagai perlakuan tidak adil lainnya dialami oleh mereka. Sistem adat yang syarat dengan ideologi patriarki membuat perempuan Jawa menjadi kaum yang tertindas.

Sehingga menyebabkan mereka harus terkurung dan terkucilkan dari dunia luar dan menerima apa yang diperintahkan kepada mereka.

Mereka tidak mengetahui bagaimanakah keadaan dunia luar yang akan menunggu mereka dan permasalahan-permasalahan yang mungkin saja dapat terpecahkan oleh ide-ide wanita yang cerdas dan dianggap sebelah mata oleh kaum lelaki ini.

Mengenai kedudukan sosial kaum perempuan Indonesia pada masa kolonial, ternyata sangat memprihatinkan.

Rendahnya status sosial perempuan tersebut diperburuk oleh adat, khususnya yang menyangkut budaya pingitan yang menutup ruang gerak mereka. Perlakuan lainnya adalah poligami yang dapat menyudutkan kedudukan kaum perempuan.

Dalam konstruksi budaya Jawa peranan perempuan hanya berkisar pada tiga kawasan yaitu di sumur (mencuci dan bersih-bersih), di dapur (memasak) dan di kasur (melayani suami). Atau dengan perkataan lain peranan perempuan adalah macak, masak dan manak.

Lebih jauh gambaran perempuan Jawa adalah sebagai konco wingking, yaitu sebagai pembantu yang melayani suami untuk urusan belakang. Karena peranannya yang marjinal tersebut maka perempuan tidak perlu mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Keadaan perempuan Indonesia, khususnya di Jawa sebelum adanya Kartini dapat dikatakan sedikit sekali gadis-gadis yang pergi ke sekolah.

Semua kebebasan yang dimiliki gadis-gadis hilang dan lenyap pada usia menjelang kawin, yaitu pada usia sepuluh atau dua belas tahun.

Ketika itu, menurut Idjah Chodijah dalam buku Rintihan Kartini, perempuan sangat terkekang dalam adat budaya Jawa yang harus dianut, hal tersebut memunculkan sebuah ketidakadilan gender yang berdampak pada perempuan seolah-olah perempuan tidak mempunyai peran penting dan hanya bisa melakukan kegiatan yang sesuai dengan peraturan budaya Jawa.

Baca Juga:

  1. Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah
  2. Edelweiss Jawa, Si Cantik Abadi yang Terancam Punah
  3. Tapa Puasa: Cara Masyarakat Jawa Kuno Melakoni Puasa Sebelum Islam Datang

Seperti surat yang Kartini tulis kepada Nyonya Van Kol pada Agustus 1901, yang dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

“Pernikahan seharusnya menjadi panggilan hidup, kini berubah menjadi sumber penghidupan. Dan aduhai, banyak perempuan Jawa yang harus menikah dengan perjanjian yang menghinakan dan merendahkan dirinya sendiri. Di bawah perintah ayah, paman atau kakaknya, anak perempuan harus bersedia mengikuti seorang laki-laki yang sama sekali asing baginya, bahkan tidak jarang sudah beranak istri. Seorang perempuan harus patuh, tanpa perlu didengar pendapatnya. Seorang perempuan tidak perlu hadir dan tidak dibutuhkan persetujuannya ketika dinikahkan”.

Perasaan teriris dan miris yang Kartini rasakan menggugahnya untuk membangkitkan kesadaran perempuan Jawa khususnya dan perempuan Indonesia yang lainnya untuk bergerak membebaskan diri terutama dalam bidang pendidikan agar setara dengan laki-laki.

Kehidupan Kartini sendiri sebenarnya tidaklah sebebas sebagaimana saudaranya yang laki-laki.

Seorang laki-laki di lingkungan feodal dapat terbang jauh seperti burung yang keluar dari sangkarnya. Berbeda dengan kondisi wanita yang selalu dibatasi dengan batasan yang ketat. Hidup di lingkungan feodal membuat Kartini merasa terbatasi gerak-geriknya.

Kartini juga mengalami masa pingitan seperti tradisi kaum feodal pada umumnya ketika ia berusia 12 tahun.

Kartini berada dalam jeratan pingitan selama empat tahun, mulai tahun 1892 sampai 1896.

Atas desakan Nyonya Ovink akhirnya Kartini dikeluarkan dari pingitannya meskipun Kartini belum mempunyai calon suami sebagaimana adat feodal jika melepaskan putrinya dari pingitan harus ada laki-laki yang menikahinya.

Kartini dengan segala kemampuannya terus bekerja keras untuk menghilangkan sistem feodalisme yang kurang memanusiakan manusia dan dinilainya sebagai bentuk diskriminasi khususnya untuk perempuan.

Di Indonesia sendiri feminisme sudah berkembang sebelum kemerdekaan Indonesia melalui perjuangan Kartini yang mengusung tema emansipasi wanita.

Perjuangan Kartini secara tidak langsung membuat banyak perempuan terinspirasi olehnya dan mulai memunculkan gerakan-gerakan yang mengusung kesetaraan gender.

Dari sini dapat dilihat bahwa ketika kondisi perempuan memprihatinkan dan membutuhkan figur seseorang yang dapat mendobrak tradisi yang mengungkung perempuan saat itu, muncullah sosok Kartini yang diharapkan dapat menjunjung tinggi derajat perempuan dan menginspirasikan perempuan masa kini.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Histori

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Published

on

Kota Depok

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga Ibu Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman, kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata serta sebagai kota resapan air.

Kota Depok sendiri diresmikan pada 27 April 1999. Peresmian Kota Depok berdasarkan Undang-undang No. 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999.

Nah mengenai asal-usul nama Kota Depok, ada beberapa versi. Versi pertama adalah nama Depok merujuk dari bahasa Belanda De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen yang artinya organisasi kristen yang pertama.

Baca Juga:

  1. Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia
  2. Sate Bulayak, Sate Sedap Khas Lombok yang Sarat Nilai Filosofis
  3. Lontong Roomo, Makanan Nikmat Khas Gresik yang Lahir di Era Sunan Giri

Dalam Jejak-jejak Masa Lalu Depok: Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingn melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.

Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Prancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Chastelein membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Serengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Serengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian.

Versi lain menyatakan nama Kota Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Kata Depok merupakan kependekan kata dari Bahasa Sunda Padepokan yang memiliki arti tempat pertapaan.

Ada pula versi yang menyebutkan Depok berasal dari kata ‘Deprok’ atau duduk santai ala melayu.

Kota Depok

Penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian Depok membuat Prabu Siliwangi ngedeprok di kawasan yang tidak jauh dari Sungai Ciliwung.

Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba dari Kesultanan Banten saat melakukan perjalanan ke Cirebon menggunakan jalur yang melintasi kawasan Depok dan sempat menetap di Beji.

Seiring berjalanya waktu. Wilayah Depok setelah merdeka dan banyak peristiwa di daerah itu. Depok masuk di wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Mengutip dari situs resmi Pemerintah Kota Depok. Wilayah Depok berawal dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor.

Kemudian pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI).

Serta meningkatnya perdagangan dan Jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Kota Depok

Pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1981 yang peresmiannya pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri dalam Negeri H. Amir Machmud yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu :Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoram Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.

Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukma Jaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, Desa Kalimulya.

Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan.

Khususnya bidang Pemerintahan semua Desa berganti menjadi Kelurahan dan adanya pemekaran Kelurahan , sehingga pada akhirnya Depok terdiri dari 3 (Kecamatan) dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yaitu :

Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahjn Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji terdiri dari (enam) Kelurahan,yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurah Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka, Kelurahan Kukusan, Kelurahan Tanah Baru.

Continue Reading

CityView

Rumah & Observatorium Bosscha, Jejak Mulia Sang Raja Teh Priangan

Published

on

Rumah Bosscha

Ketika mendengar nama Bosscha, ingatan kita pasti langsung tertuju pada tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Namun di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, pemilik nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha punya banyak jejak yang sayang untuk dilupakan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan sosok di belakang berdirinya Peneropongan Bintang Bosscha yang hidup di kawasan Bandung, antara 1887 hingga 1928. Seorang Belanda yang kaya-raya dan dermawan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan putra seorang Fisikawan Belanda, Prof. Dr J Bosscha Jr, yang lahir pada 15 Mei 1865 di Belanda. Ia datang ke Indonesia, berlayar ke Jawa pada 1887. Saat itu usianya 22 tahun. Sesampainya ke Indonesia, ia bekerja di perkebunan teh milik pamannya. Hingga akhirnya pada 1896, Bosscha membangun perkebunan tehnya sendiri di kawasan Malabar, Pangalengan, Bandung Selatan. Namanya adalah Perkebunan Teh Malabar.

Baca Juga:

  1. Nikmatnya Kopi Durian Lampung, Kopi Peningkat Libido Lelaki
  2. Wajib Coba Teh Talua, Minuman Penambah Libido Asal Minang
  3. Kopi Jahe, Perekat Kehangatan Persaudaraan Masyarakat Betawi

Perkebunan teh itu berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.000 hektare. Selain teh, ia juga menanaminya dengan kina yang merupakan obat malaria. Jejak peninggalannya masih bisa ditemukan di berbagai sudut wilayah Bandung, salah satunya Rumah Bosscha.

Menurut Alam Buchori Muslim, staf pemasaran agrowisata PTPN VIII, rumah tersebut dibangun tepat ketika Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar pada 1896. Luas bangunannya sekitar 550 meter persegi. Meneer Belanda menempati rumah itu hingga akhir hayatnya, yakni pada 26 November 1928.

Usaha Bosscha cukup sukses. Selama 32 tahun menjadi pengelola, perkebunan teh miliknya berkembang hingga memiliki dua pabrik teh dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar internasional. Dari hasil perkebunan tehnya inilah, Bosscha menyumbang dana ke berbagai yayasan pendidikan di sekitar Bandung, termasuk untuk pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB sekarang) dan membuat peneropongan bintang, yang sekaligus merupakan keinginannya.

Rumah Bosscha

Bersama kolega, Bosscha sendirilah yang membeli Teleskop Refraktor Bamberg dan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang pada masa itu harganya sangat mahal. Ia langsung membelinya dari Jerman. Sayang, sebelum dapat melihat bintang, pada 26 November 1928 Bosscha sudah lebih dulu meninggal. Ia dimakamkan di sekitar kawasan perkebunannya di Malabar; sesuai dengan permintaannya.

Observatorium Bosscha

Di sisi lain, Rumah peristirahatan Bosscha mengadopsi arsitektur Eropa yang ditandai oleh cerobong asap dari tungku kayu bakar di ruang tengah. Rumah itu terdiri dari beberapa kamar tidur dan kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, bar, dapur bersih, dapur kotor, dan ruang bawah tanah.

Bangunan didominasi oleh material kayu dan batu alam berwana hitam yang bisa terlihat di dinding luar. Rumah dikeliling tanaman besar dan kecil yang menambah keasrian bangunan berbentuk persegi itu. Rumah tersebut pernah direnovasi beberapa kali, seperti saat penjajahan Jepang sekitar 1942 dan Gempa Pangalengan yang terasa sampai Malabar.

Continue Reading

Histori

Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia

Published

on

Douwes Dekker

“Pada 1956, dihadapan tokoh Indo dalam Gabungan Indo untuk Kesatuan Indonesia (GIKI), Presiden Soekarno menobatkan gelar “Bapak Nasionalisme Indonesia”, kepada Ernest Francois Eugene Douwes Dekker”.

Dialog tentang nasionalisme Indonesia seolah tak kunjung usai. Wacana nasionalisme tiada henti-henti ditafsirkan, bahkan kerapkali disisipi maksud politis dan agenda tertentu. Seakan wacana nasionalisme bagian dari kehendak rezim.

Rezim Orde Baru mengubur wacana nasionalisme Orde Lama yang lebih mengedepankan peran sipil (negarawan) ketimbang militer.

Di bawah rezim Orde Baru, pengaruh militer melambung, sedangkan peran sipil dalam sejarah Indonesia meredup. Akibatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia mempercayai bahwa kemerdekaan tidak dapat tercapai tanpa perjuangan fisik.

Jika saya tidak menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga, mungkin, pemahaman saya selaras dengan wacana nasionalisme yang dibentuk rezim Orde Baru. Jauh lebih masuk akal mengagung-agungkan peran militer daripada sipil, apalagi jikalau Cityzen hanya memperoleh informasi dari pelajaran sekolah.

Bagaimana anda bisa memahami peran sipil dalam sejarah Indonesia, apabila anda hanya membaca buku referensi yang mendukung perjuangan militer. Cityzen bisa mengamati berbagai buku pelajaran sejarah dari sekolah dan akan menjumpai penjelasan perjuangan sipil yang seakan-akan cepat dibasmi. Seperti Indische Partij yang diceritakan berumur singkat, tanpa ada penjelasan lebih lanjut terkait keberlanjutan dari wacana nasionalisme yang diusungnya.

Coba bandingkan dengan peran militer, tentu sangat hebat. Perjuangan fisik seolah-olah solusi kemerdekaan Indonesia yang paling konkret, sedangkan gambaran perjuangan sipil melalui diplomasi maupun negoisasi tampak rumit, dan mendefinisikan keberhasilannya sangat sulit, terlebih untuk murid sekolahan. Akan tetapi, sesungguhnya perjuangan militer juga mengalami kerumitan yang sama dengan perjuangan sipil.

Pasca Perang Revolusi Fisik (Agresi Militer Belanda), dalam kubu militer terjadi banyak pergolakan internal yang ditafsirkan sebagai masalah eksternal.

Berbagai pemberontakan dan aksi-aksi kerusuhan bersumber dari ketidaksanggupan pihak militer dalam mengorganisir laskar-laskar rakyat (para-militer).

Namun, rezim Orde Baru telah menggarap narasi sejarah Indonesia dengan baik, sehingga penulisan sejarah mengenai hal itu baru muncul setelah Reformasi.

Berbalik ke masa Orde Lama, Soekarno pernah menganugerahi gelar Bapak Nasionalisme Indonesia kepada pejuang sipil dari kaum Indis, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker.

Indis (Indo, Indisch) mengacu pada sifat ke-Hindia Belanda-an yang terwujud dalam kebudayaan hibrida (campuran Barat-Belanda dan Timur-Jawa). Kaum Indis mendukung kebudayaaan Indis dan Ernest F.E. Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudhi bagian darinya.

Baca Juga:

  1. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau
  2. Inggris di Jawa: Kala Britania Menanamkan Modal di Indonesia
  3. Tri Koro Dharmo, Lahirnya Kaum Terpelajar yang Fokus Pada Isu Pendidikan

Menurut Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis; Dari Zaman Kompenie Sampai Revolusi, persona Ernest F.E Douwes Dekker tidak terlepas dari kehidupan masa kanak-kanaknya.

Selazimnya anak-anak dari keluarga Indis, ia diasuh para babu atau jongos yang juga merangkap sebagai pembantu rumah tangga. Kultur masyarakat Indis dan pendidikan Barat inilah yang mempengaruhi pandangan dunia seorang Ernest F.E Douwes Dekker.

Ernest F.E Douwes Dekker tumbuh menjadi pemuda yang idealis. Ernest F.E Douwes Dekker diberhentikan, oleh atasannya R. Jesse, setelah membela pekerja perkebunan kopi Sumber Duren di kaki Gunung Semeru yang dieksploitasi.

Karir keduanya sebagai pegawai laboratorium (ahli kimia) di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, juga tumbang karena ia memprotes kecurangan dalam pembagian air irigasi antara sawah milik warga pribumi dan perkebunan tebu kolonial.

Episode berikutnya, tulis Pradipto Niwandhono, dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan ; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia, Ernest F.E Douwes Dekker mendaftakan diri sebagai sukarelawan dalam Perang Besar Boer (1899-1902).

Orang-orang Calvinis Belanda membangun koloni permanen di Capetown (Afrika Selatan) semenjak tahun 1652, nantinya mereka dikenal sebagai kaum Boer. Sepanjang abad ke-19, secara berangsur-angur Inggris menjarah wilayah kekuasaan kaum Boer.

Samuel Williard Crompton dalam buku 100 Peperangan Yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia menulis jika serangkaian peperangan sengit memuncak pada 1899, Ernest F.E Douwes Dekker bergabung dalam kekuatan Boer dibawah komando Piet Conje, Louis Botha, dan Jacobus De La Rey. Perjanjian Vereeniging mengakhiri perang, kaum Boer mengakui kedaulatan Inggris, sebagai gantinya memperoleh kompensasi kerugian perang dan hak istimewa.

Menyaksikan langsung Perang Boer, pandangan dunia Ernest F.E Douwes Dekker semakin terbuka. Penemuan emas di negara bagian Boer, Transvaal, menggambarkan eksploitasi sumber daya yang mendorong kolonialisme.

Konflik agraria (pertanahan) pun terjadi, orang-orang Boer mempertahankan tanah leluhurnya dari ekspansi Inggris yang merangsang nasionalisme. Cara Inggris menuntaskan konflik dengan Boer bagi Ernest F.E Douwes Dekker bisa diterapkan di negeri jajahan Hindia Belanda.

Gagasan Ernest F.E Douwes Dekker tentu tidak digubris karena terlampau radikal (dalam konteks pemerintah kolonial Belanda padapermulaan abad ke-20).

Pemerintah kolonial Belanda sangat konservatif dan penuh pertimbangan, terutama bila menyinggung dana dan isu diskriminasi ras yang Ernest F.E Douwes Dekker usung dalam berbagai opininya di surat kabar.

Di sisi lain, Ernest F.E Douwes Dekker mendobrak nasionalisme Indonesia, yang tanpa memandang etnis, suku dan ras, terpenting lahir dan menghuni tanah Hindia Belanda.

“(Ernest) Douwes Dekker sendiri telah sering memberi penekanan pada pembaca Indo-nya bahwa mereka akan ‘berkhianat’ pada ibu Jawa mereka jika mengambil sikap superior (congkak ala Eropa) tersebut. Oleh karenanya, ia mendesak khlayak Indo untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘orang-orang Hindia (de Indiers), tempat mereka lahir dan dibesarkan”, tulis Pradipto Niwandhono dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia.

Continue Reading

Latest News

CityView7 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan7 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout7 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti7 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling7 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok7 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur7 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori7 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling7 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional7 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional7 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti7 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional7 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update7 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional7 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional7 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle7 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView7 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout7 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis7 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi7 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya7 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView7 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional7 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional7 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending