NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
Pena dan Lisan: Mengenal Buya Hamka, Strategi Pendidikan dan Dakwahnya - Portal Berita MyCity Depok
Connect with us

Inspirasi

Pena dan Lisan: Mengenal Buya Hamka, Strategi Pendidikan dan Dakwahnya

Published

on

ilustrasi Buya Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah lebih dikenal dengan nama Buya Hamka, lahir di Minanjau, Sumatra barat pada tanggal 17 Februari 1908. Buya merupakan putra pertama dari pasangan Dr. Abdul Karim Amarullah dan Shaffiah.

Dikutip dari buku Irfan Hamka, Ayah… Kisah Buya Hamka, pada 5 April 1929, dia menikah dengan Siti Raham Rasul. Setelah Siti Raham Rasul Meninggal pada tahun 1971 kurang lebih 6 tahun kemudian Buya Hamka menikah lagi dengan Siti Chadijah.

Sebagai ulama dan sastrawan, ada sekitar 118 karya tulisan artikel dan buku yang telah dipublikasikan. Topik yang diangkat melingkupi berbagai bidang, beberapa di antaranya mengupas tentang Agama Islam, filsafat, sosial, tasawuf, roman, sejarah, tafsir Alquran, dan otobiografi.

Buya juga pernah mendapatkan berbagai gelar kehormatan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, lalu gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Prof. Moestopo Beragama.

Kemudian di tahun 1974 mendapat gelar yang sama dari Universitas kebangsaan Malaysia. Setelah meninggal dunia Buya Hamka mendapat Bintang Mahaputera Madya dari Pemerintah RI di tahun 1986. Dan, terakhir di tahun 2011, Buya Hamka mendapat penghormatan dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Putra dari DR. Syaikh Abdulkarim Amrullah ini merupakan tokoh pelopor dari Gerakan Islam Kaum Muda di Minangkabau yang memulai gerakannya pada 1906 setelah kembalinya dari Mekkah.

Syaik Abdulkarim Amrullah yang terkenal dengan sebutan Haji Rasul di waktu mudanya itu, mempolopori gerakan menentang ajaran Raitahah, yakni sebuah gerakan yang menghadirkan guru dalam ingatan, sebagai salah satu sistem/cara yang ditempuh oleh penganut-penganut tarekat apabila mereka akan memulai mengerjakan suluk.

Selain itu, dia menyatakan pendapat-pendapat yang lain, berkenaan dengan masalah khilafiyah.

Di zaman hebat pertentangan kaum muda dan kaum tua (1908) atau 1325 Hijriah itulah, lahir putranya yang bernama Abdul Malik. Dan, seketika gerakan kaum muda itu menerbitkan majalah Al-Munir pada april 1911.

Lahir dari Rahim Pergerakan, Sejak Kecil Akrab dengan Perdebatan

Abdul Malik yang dikenal sebagai Hamka dan kerap disapa sebagai Buya Hamka oleh anak-anaknya, maupun orang lain. Buya Hamka kecil sudah terbiasa mendengar berbagai perdebatan sengit antara kaum muda dan kaum tua tentang paham-paham agama. Sejak usia 3 tahun dia sudah akrab dengan perbedaan pendapat dan akrab dengan pergerakan.

Baca Juga:

  1. Peran Sunan Gresik, Si Kakek Bantal dalam Membangun Sistem Irigasi di Tanah Jawa
  2. Kisah Sitti Nurbaya: Pemberontakan dan Kritik Budaya Pernikahan Minangkabau
  3. Bubur Kampiun, Hidangan Khas Minangkabau yang Hanya Ada Saat Ramadan

Sejak kecil, Buya Hamka menerima dasar-dasar agama dan membaca Alquran langsung dari ayahnya. Ketika usia 6 tahun tepatnya pada tahun 1914, ia dibawa ayahnya ke padang pada usia 7 tahun, ia kemudian dimasukkan ke sekolah desa yang hanya dienyam selama 3 tahun, karena kenakalannya ia di keluarkan dari sekolah, soal pengetahuan agama, banyak ia peroleh dengan belajar sendiri.

Tidak hanya ilmu agama, Buya Hamka juga seorang autodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik islam maupun barat.

Ketika usia Hamka mencapai usia 10 tahun, ayahnya mendirikan dan mengembangkan Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Di tempat itulah Buya Hamka memepelajari ilmu agama dan mendalami ilmu bahasa arab.

Sumatera Thawalib adalah sebuah sekolah dan perguruan tinggi yang mengusahakan dan memajukan macam-macam pengetahuan berkaitan dengan islam yang membawa kenaikan dan kemajuan di dunia dan akhirat.

Menurut Badiatul Roziqin dalam 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia, awalnya Sumatera Thawalib adalah sebuah organisasi atau perkumpulan murid-murid atau pelajar mengaji di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan Surau Parabek Bukittinggi, Sumatera Barat.

Namun dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib langsung bergerak dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah dan perguruan yang mengubah pengajian surau menjadi sekolah berkelas.

Secara formal, pendidikan yang ditempuh Buya Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Diniyyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay El Yunusy.

Keadaan Padang Panjang pada saat itu ramai dengan penuntut ilmu agama islam di bawah pimpinan ayahnya sendiri. Pelaksaaan pendidikan waktu itu masih bersifat tradisional dengan menggunakan sistem Halaqah.

Pada tahun 1916, sistem klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistem klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis.

Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti wahyu nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan pada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistem hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan.

Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf arab dan latin, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah mempelajari dengan membaca kitab-kitab rab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama rendah di Mesir.

Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak diantara teman-teman Buya Hamaka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak bisa menulis dengan baik.

Meskipun tidak puas dengan sistem pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama. Di antara metode yang digunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan Engku Zainuddin Labay El-Yunusy yang menarik hatinya.

Pendekatan yang dilakukan Engku Zainuddin, bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses mendidik (transformer of value).

Jalan Dakwah dan Perjuangan di Bidang Pendidikan

Melalui Diniyyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistem pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, mengunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu-ilmu umum seperti, bahasa, matematika, sejarah dan ilmu bumi.

Rajin membaca membuat Buya Hamka semakin kurang puas dengan pelaksanaan pendidikan yang ada. Kegelisahan Intelektual yang dialaminya itu telah menyebabkan ia berhasrat untuk merantau guna menambah wawasannya.

Oleh karenanya, di usia yang sangat muda Buya Hamka sudah melalang buana. Tatkala usianya masih 16 tahun, tepatnya pada tahun 1924, ia sudah meninggalkan minangkabau menuju Jawa, Yogyakarta ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah

Di Yogyakarta Buya Hamka mulai berkenalan dengan Serikat Islam (SI). Ide-ide pergerakan ini banyak mempengaruhi pembentukan pemikiran Buya Hamka tentang islam sebagai suatu yang hidup dan dinamis.

Buya Hamka mulai melihat perbedaan yang demikian nyata antara islam yang hidup si Minangkabau, yang terkesan statis, dengan islam yang hidup di Yogyakarta, yang bersifat dinamis. Di sini pula Buya Hamka mulai berkenalan dengan ide pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat.

Rihlah Ilmiah yang dilakukan Buya Hamka ke pulau-pulau Jawa selama kurang lebih setahun ini sudah cukup mewarnai wawasannya tentang dinamika dan Universitas Islam. Dengan bekal tersebut, Buya Hamka kembali pulang ke Minanjau pada tahun 1925 dengan membawa semangat baru tentang islam.26 Ia kembali ke Sumatera Barat bersama AR. St. Mansur.

Di tempat tersebut, AR. St. Mansur menjadi mubaligh dan penyebar Muhammadiyah, sejak saat itu Buya Hamka menjadi pengiringnya dalam setiap kegiatan kemuhammadiyahan.

Berbekal pengetahuan yang telah diperolehnya, dan dengan maksud ingin memperkenalkan semangat modernis tentang wawasan islam, ia pun membuka kursus pidato di Padang Panjang. Hasil kumpulan pidato ini kemudian ia cetak dalam sebuah buku dengan judul Khatib Al-Ummah.

Selain itu, Buya Hamka banyak menulis pada majalah seruan islam, dan menjadi koresponden di harian Pelita Andalas. Buya Hamka juga diminta untuk membantu pada Harian Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah di Yogyakarta.

Berkat kepiawaian Buya Hamka dalam menulis, akhirnya ia diangkat sebagai pemimpin majalah Kemajuan Zaman.

Dua tahun setelah kembalinya dari Jawa (1927), Buya hamka Pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ibadah haji itu ia manfaatkan untuk memperluas pergaulan dan bekerja. Selama enam bulan ia bekerja di bidang percetakan di Mekkah.

Sekembalinya dari mekkah, ia tidak langsung pulang ke Minangkabau, akan tetapi singgah di Medan untuk beberapa waktu lamanya. Di medan inilah peran Buya Hamka sebagai intelektual mulai terbentuk.

Dari kota ini ia mulai melangkahkan kakinya menjadi seorang pengarang yang melahirkan sejumlah novel dan buku-buku agama, falsafah, tasawuf, dan lain-lain. Di sini pula ia memperoleh sukses sebagai wartawan dengan pedoman masyarakat.

Tapi di sini pula, ia mengalami kejatuhan yang amat menyakitkan, hingga bekas-bekas luka yang membuat ia meninggalkan kota ini menjadi salah satu pupuk yang menumbuhkan pribadinya di belakang hari.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inspirasi

Keren! Mahasiswa Asal Jember Jadi WNI Pertama Kerja di Pabrik Tesla Jerman

Published

on

Kevin Nizam Nabila, Warga Negara Indonesia (WNI) pertama yang bekerja di pabrik produksi mobil Tesla milik Elon Musk.

Pria asal Jember, Jawa Timur bernama Kevin Nizam Nabila menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pertama yang bekerja di pabrik produksi mobil Tesla milik Elon Musk.

Diketahui, dirinya merupakan pria kelahiran tahun 1997. Kevin bekerja di Gigafactory Tesla yang merupakan salah satu perakitan mobil Tesla di Berlin, Jerman. Di mana pada Maret 2022 pabrik itu resmi dioperasikan.

Ketika pabrik tersebut belum rampung mengurus perizinan operasi ke Pemerintah Jerman, tepatnya pada 2021 ia melamar kerja di Tesla Jerman. Kemudian usai beroperasi, kevin mulai bekerja sebagai junior production engineer pada 16 Mei.

Demi menjaga kualitas produksi Tesla model Y, Kevin bertugas dalam manufaktur serta mengoperasikan robot produksi.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 10 Kampus Swasta Terbaik Indonesia Versi THE Impact Rankings 2022
  2. Sadiq Khan, Wali Kota Muslim Pertama London yang Merangkul Semua Golongan
  3. Cerita Nikhil Kamath, Dulu Jualan HP Bekas Kini Jadi Crazy Rich Berharta Rp21,7 Triliun

Mengutip dari laman CNNIndonesia.com pada Minggu (22/5/2022) “Bangga bisa menjadi pegawai Tesla apalagi baru Kevin orang Indonesia pertama di sini.”

Selain itu dirinya juga mengungkapkan terkait proses rekrutmen di sana. Kevin mengirim lamaran serta esai yang sesuai dengan posisi lamaran ke perusahaan ketika lulus S1 pada Juni 2021 lalu.

Selanjutnya pada September dirinya mendapatkan undangan wawancara kerja. Kemudian dilanjutkan dengan tahap seleksi, yakni tes dasar elektro dan produksi mobil.

“Saya dapat melaluinya dengan baik karena memiliki pengalaman magang sebelum masuk kuliah di Mercedes Benz di kota Rastatt, Jerman,” terang Kevin.

Continue Reading

Inspirasi

Mengenal Raden Topo Wresniro, Pria Semarang yang Main di Film Dokter Strange

Published

on

Raden Topo Wresniro

Film lanjutan dari lini pahlawan super produksi Marvel Cinematic Universe (MCU), yakni Doctor Strange in The Multiverse of Madness kini tengah menjadi tontonan favorit bagi masyarakat.

Terlebih terdapat orang Indonesia yang ikut mengambil peran penting di dalam film ini, yaitu Raden Topo Wresniwiro. Dirinya merupakan pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah. Raden Topo dikatakan sempat hidup berpindah ke beberapa wilayah Tanah Air.

Di mana sebelum dirinya memutuskan untuk menetap di London, Inggris ia lebih dulu tinggal di Jakarta, Kudus, dan Yogyakarta. Namanya memang langsung mencuri perhatian saat ia muncul dalam daftar pemain di film Doctor Strange.

Hal tersebut lantaran namanya sangat mencerminkan nama khas orang Indonesia, tepatnya masyarakat Jawa. Pada film kedua dari karakter utama Stephen Strange ini, mungkin kemunculan Raden Topo baru disadari banyak orang.

Baca Juga:

  1. Di Mana Lokasi KKN di Desa Penari?
  2. Kim Seon-ho Kembali ke Medsos, Beri Pesan menyentuh untuk Fans
  3. Berhati Malaikat, Iu Sumbang Rp1 Miliar untuk Anak-Anak Korsel

Padahal sejak film pertama pada tahun 2016 silam, dirinya telah ambil bagian. Raden Topo penyihir bertangan satu sekaligus asisten dari sosok pimpinan kuil yang dijuluki Ancient One yang bernama Master Hamir.

Diketahui ternyata Raden Topo lebih dulu dikenal sebagaia seorang akademisi di bidang sains, olahraga, serta spiritual sebelum terjun ke dunia akting. Bahkan dirinya juga telah menggeluti berbagai bidang tersebut selama 19 tahun lamanya. Hal ini berdasarkan yang tertera di akun profesional LinkedIn miliknya.

Kemudian sejak tahun 2019, atas berbagai kemampuannya itu ia mendirikan Topo Tutorials yang menawarkan layanan pengajaran privat di berbagai bidang seperti Matematika, Sains, dan Olaharaga. Bidang olahraga seperti karate, berenang, serta untuk kebutuhan meditasi seperti yoga pun sangat mahir dilakukan olehnya.

Hal menarik lainnya adalah peran yang ia jalani sebagai seorang aktor ternyata hanyalah berstatus pekerja lepas saja. Meski demikian, dirinya tercatat telah terlibat dalam berbagai produksi film Hollywood bergenre laga. Sebut saja seperti 47 Ronin (2013) sebagai penasihat spiritual, Star Wars: The Force Awakens (2015) sebagai Ubert Quaril, dan Maleficent: Mistress of Evil (2019) sebagai salah satu Tundra Spiritual Fey atau kaum peri.

Continue Reading

Inspirasi

Yuma Soerianto, Bocah 10 Tahun Asal Indonesia yang Pukau Bos Apple

Published

on

By

Yuma Soerianto

Bocah asal Indonesia bernama Yuma Soerianto berhasil membuat beberapa aplikasi yang telah dipublikasikan di Play Store, meski dirinya baru berusia 10 tahun.

Atas halnya itu sampai membuat kagum CEO Apple Tim Cook. Apa lagi pembuatan aplikasi yang dilakukan oleh siswa yang masih duduk di kelas 5 sekolah dasar ini secara otodidak.

Dirinya bahkan tembus ke Worlwide Developer Converence (WWDC) di San Jose, Amerika Serikat atas keberhasilannya. Yuma diketahui menjadi sosok partisipan yang paling muda dalam pertemuan yang dihadiri oleh pengembang aplikasi dari berbagai negera.

Bocah cerdas itu ternyata merupakan anak tunggal dari pri bernama Hendri yang berasal dari Jakarta. Yuma kini tinggal di Australia meski sempat menetap di Singapura.

Baca Juga:

  1. Jadi Milyarder di Usia 22 Tahun, Kisah Sukses Akbar Wicaksono Bisa Jadi Inspirasi Kaum Milenial
  2. 5 Kebiasaan Wanita Sukses, Bisa Jadi Inspirasi Kamu
  3. Jadi Pakar Kripto, Bocah 12 Tahun Ini Mengajar di Universitas Oxford

Banyak pihak yang mengenali Yuma sebagai bocah berdarah Indonesia sebab nama belakangnya yang khas “Soerianto,” walaupun dirinya ini tinggal di luar negeri. Siswa yang terdaftar sebagai murid SD Middle Park Primary School di Meulborne itu memilih belajar coding, karena datang dari rasa kebosenannya terhadap pelajaran di sekolah.

Yuma belajar otodidak bagaimana membuat aplikasi melalui materi yang ada di YouTube. Padahal usianya baru menginjak enam tahun kala itu.

Kemudian kini usianya yang berusia 10 tahun telah membawanya berhasil menciptakan lima aplikasi. Anatara lain seperti Let’s Stack, yakni game yang melibatkan kotak susun dan Hunger Button aplikasi yang berguna membantu orang menemukan restoran terdekat untuk makan malam.

Serta ketiga lainnya yang tidak kalah canggih adalah aplikasi Kid Calculator, Weather Duck dan Pocket Poke. Tidak hanya sampai di situ saja, masih ada 1 aplikasi baru yang telah dibuatnya belum diberi nama, yang berisikan dalam perjalanan menuju WWDC.

Bos tertinggi Apple, Tim Cook pun akhirnya mendengar keahlian Yuma dalam mengotak-atik coding. Sehingga Tim Cook meluangkan waktu khusus untuk menemui Yuma sebelum acara resmi itu dimulai.

CEO Apple tersebut menyatakan kekagumannya pada aplikasi yang dibuat saat perjalanan bocah pintar tersebut di pesawat dalam pertemuannya dengan Yuma. Atas apa yang dibuat oleh anak kecil sepuluh tahun itu, Cook sempat berujar “wow.”

Selain itu secara jelas Cook mengatakan dirinya terkesan dan tidak sabar untuk selanjutnya melihat karya dari Yuma kembali. Diketahui pula pertemuan itu tersebar ke seluruh dunia karena diliput oleh media.

Continue Reading

Latest News

CityView7 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan7 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout7 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti7 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling7 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok7 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur7 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori7 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling7 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional7 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional7 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti7 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional7 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update7 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional7 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional7 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle7 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView7 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout7 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis7 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi7 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya7 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView7 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional7 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional7 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending