NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
Privatisasi Air dan Diskriminasi Pendistribusian untuk Pribumi - Portal Berita MyCity Depok
Connect with us

Histori

Privatisasi Air dan Diskriminasi Pendistribusian untuk Pribumi

Published

on

ilustrasi sumber air

Banyak kota kuno yang melahirkan peradaban di tepi-tepi air. Misalnya danau dan sungai. Air dipangan sebagai lambang kehidupan dan kesuburan. Maka dari itu, peradaban-peradaban dunia muncul dari tepian air. Seperti peradaban Mesopotamia yang berada di dataran antara Sungai Tigris dan Efrat, dan Mesir yang tumbuh di tepi Sungai Nil.

Permukiman pada awalnya tidak dapat dipisahkan dari kedekatannya dengan sumber air. Dalam perkembangannya, permukiman sebagai bagian dari lingkungan hunian tidak hanya memerlukan air, akan tetapi juga prasarana dan sarana dasarserta utilitas umum lainnya.

Misalnya saja, sanitasi. Sarana prasarana sanitasi lingkungan tersebut mencakup pengelolaan air limbah, persampahan, dan sistem drainase.

Ketersediaan dan kondisi prasarana dan sarana dasar ini sangat menentukan kualitas lingkungan permukiman tersebut dan derajat kesehatan penghuninya. Penyediaan air minum dapat dilakukan melalui upaya masing-masing orang/keluarga (secara individu) seperti sumur gali/pompa atau penampungan air hujan (PAH).

Apabila kebutuhan telah lebih meningkat, sejalan dengan semakin berkembangnya permukiman,

maka upaya yang dilakukan secara individu tidak lagi dapat diandalkan, sehingga diupayakan secara terpusat melalui sistem perpipaan, yang dimulai dari permukiman yang sudah mulai berkembang dan padat seperti di kawasan perkotaan.

Baca Juga:

  1. Kala Kota Jakarta Jadi Lubang Kubur Manusia
  2. Ketika Limbah Tinja Mengancam Air Bersih Indonesia
  3. Hari Kesehatan Dunia: Dari Politik Hingga Ekonomi, Begini Karut-Marutnya Sistem Kesehatan di Indonesia

Tidak jelas kapan persisnya sistem penyediaan air minum mulai ada di Indonesia. Menurut buku Direktori Perpamsi (persatuan perusahaan air minum seluruh indonesia) menyebutkan, bahwa sistem penyediaan air minum di masa prakemerdekaan sudah hadir pada era 1800-an.

Thomas Stamford Raffles, Gubernur Hindia Belanda selama penjajahannya di Pulau Jawa pada periode 1811-1815, yang juga dikenal sebagai ilmuwan, pada tahun 1817 mencatat bahwa penduduk di Pulau Jawa telah terbiasa merebus air sebelum diminum untuk menjaga kesehatan.

Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh bangsa Belanda yang tinggal di Batavia.

Di Batavia, pada tahun 1880-an ada tuan tanah yang memiliki sumur yang airnya sangat jernih. Pemilik tanah itu pun memperdagangkan air sumur tersebut dengan harga 1,5 gulden per drum (200 liter). Air sungai pun waktu itu diperdagangkan dengan harga 2-3 sen per kaleng (20 liter).

Pemerintah Kota Batavia terbentuk pada tahun 1905, dan pada tahun 1918 didirikanlah PAM (Perusahaan Air Minum) Batavia dengan mendatangkan air baku dari mata air di Ciomas, Bogor.

Pada waktu itu penduduk memang kurang menyukai air sumur bor yang dibangun PAM Batavia, karena kalau dipakai untuk menyeduh teh, airnya berwarna hitam karena kandungan besi yang tinggi.

Awalnya, orang-orang yang tinggal di Jakarta menjadikan air Kali Ciliwung sebagai sumber air minum. Air Sungai Ciliwung dahulu memang sangat jernih.

Seorang analis Belanda Dr. de Haan tahun 1648 memberi nilai sangat baik (voortreffelijk) atas air Ciliwung. Air sungai ditampung di sebuah waduk yang dalam bahasa Belanda disebut waterplaats.

Waduk itu semula dibangun di dekat benteng Jacatra di utara kota, kemudian dipindahkan ke kali di daerah Molenvliet (sekarang lebih dikenal dengan nama Harmoni), tak jauh dari Istana Negara yang sekarang.

Waduk itu dilengkapi dengan pancuran-pancuran kayu yang mengucurkan air dari ketinggian tiga meter.

Masyarakat menamakan tempat itu pancuran, yang oleh lidah Betawi ketika itu berubah menjadi pancoran. Dari sana air diangkut oleh para pedagang air untuk dijajakan di daerah Kota.

Di Kota sendiri, tepatnya Stadhuis (balai kota), orang-orang sering berebut untuk mendapatkan air bersih yang kadang dibagikan oleh pejabat Hindia Belanda di sana.

Jumlah air bersih sungguh minim sedangkan yang datang banyak. Maka dari itu, banyak penduduk yang tidak mendapatkan air bersih dari Balai Kota.

Pola penyediaan air seperti itu tentu saja tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan karena tanpa melalui pengolahan apapun.

Maka pada akhir abad ke-18 dan tahun pertama abad ke-19, mulailah muncul wabah penyakit menular, mulai dari disentri, tifus, bahkan kolera.

Oleh karena itu, tidak semua orang Belanda mau minum air Ciliwung. Khususnya para ambtenaar (Pegawai Negeri Sipil) kelas atas menggunakan air yang terkenal dengan sebutan Ayer Belanda yang didatangkan dari luar Batavia. Tetapi harganya sangat mahal, satu ringgit (2,5 gulden) per guci kecil.

Kaum ambtenaar kelas lebih rendah membeli air yang khusus didatangkan dari Bogor yang mutunya jauh lebih baik dan lebih aman, walau dengan harga yang jauh lebih mahal dari air Ciliwung.

Privatisasi Air Minum, Hanya Ada di Kota yang Dihuni Belanda

Sebagaimana dengan di Batavia, di kota-kota besar lainnya dan di kota-kota kecil di Indonesia yang didiami orang Belanda, tumbuh pula sarana penyediaan air minum walau kapasitasnya tidak sepadan dengan jumlah penduduknya. Sarananya pun masih sederhana, umumnya memanfaatkan sumber mata air

Sekitar tahun 1880-1890, Dinas Pengairan Belanda membangun saluran air sepanjang 12 km dari sebuah bendungan di Sungai Elo ke pusat kota Magelang, Jawa Tengah, untuk keperluan air minum dan pengairan.

Di Surabaya tahun 1890, atas jasa-jasanya merintis penyediaan air minum, dua orang Belanda bernama Mouner dan Bernie diberi konsesi mengelola mata air Umbulan di Pasuruan.

Mereka memasang pipa sepanjang lebih dari 60 km dari wilayah Pasuruan hingga ke kota Surabaya, yang pengerjaannya dilakukan dalam dua tahun. Dan pada tahun 1900 berdirilah perusahaan air minum Kota Surabaya.

Waktu itu, rumah-rumah yang dianggap mewah diwajibkan oleh pemerintah Hindia Belanda berlangganan, dan dalam waktu tiga tahun, perusahaan air minum itu memiliki 1.588 pelanggan. Tahun 1906, perusahaan air minum itu dijadikan sebagai Dinas Air Minum Kota Surabaya, yang kemudian menjadi PDAM Kota Surabaya sampai sekarang.

Air ledeng seperti itu terdapat juga di berbagai kota lain yang tersebar di Nusantara, dimana terdapat sumber berupa mata air yang cukup besar.

Yang jelas, pembangunan sarana air minum di masa itu memang lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bangsa Belanda dan lapisan masyarakat atas yang berkuasa waktu itu.

Lapisan masyarakat mayoritas yang berkedudukan sosial rendah dan ekonomi lemah kurang mendapat perhatian.

Mereka menggunakan air sumur dangkal, air sungai dan semacamnya, yang tentu saja tidak terjamin kesehatannya, meskipun budaya merebus air terlebih dahulu sebelum diminum telah lama tertanam dalam masyarakat Indonesia, dan itu cukup membantu.

Di berbagai tempat yang dikaruniai dengan mata air, sebagian warganya beruntung dapat mengonsumsi air minum yang baik yang berasal dari mata-mata air itu.

Kota-kota besar maupun kecil yang didiami orang Belanda di masa prakemerdekaan adalah kota-kota yang memiliki arti strategis bagi Belanda, baik dari segi politis dan keamanan, dan dari sudut perekonomian seperti pertambangan, perniagaan, perkebunan dan pelabuhan.

Sebut saja misalnya Jakarta, Bandung, Bogor, Cirebon, Sukabumi di Jawa Barat, Semarang, Salatiga, Banyumas, Cilacap, Yogyakarta, Solo, Magelang di Jawa Tengah.

Kota-kota penting bagi Belanda di Jawa Timur antara lain Surabaya, Malang, Banyuwangi, Madiun, Jember.

Sedangkan di Sumatera antara lain Banda Aceh, Sigli, Lhoksumawe, Medan, Brastagi, Pematangsiantar, Prapat, Sibolga, Padangsidempuan, Bukittinggi, Padang, Sawahlunto, Jambi, Palembang, Bengkulu, Pekanbaru, Dumai.

Di Kalimantan terdapat kota-kota penting seperti Banjarmasin, Pontianak, Balikpapan, lalu Makassar, Manado dan Bitung di Sulawesi, dan Ambon serta Ternate di Maluku.

Bentuk Kelembagaan Pengelolaan Air Pada Saat Itu

Pengelolaan penyediaan air minum di berbagai kota tersebut di atas diatur pemerintah Hindia Belanda dengan membentuk badan hukum berupa bedrijven (perusahaan) atau diensten (kedinasan). Contoh-contoh badan hukum berbentuk perusahaan antara lain adalah:

Gemeentelijk Waterleiding Bedrijf (Perusahaan Air Minum Kotapraja) yang terdapat di kota-kota Batavia, Surabaya, Madiun, Salatiga, Bandung, Bogor, Sukabumi, Semarang,dan sebagainya.

Provinciaal Waterleiding Bedrijf (Perusahaan Air Minum Provinsi) yang terdapat di kota Mojokerto dan sekitarnya.

Pada masa itu, perusahaan air minum kotapraja (waterleiding bedrijf) menginduk ke Departemen Kesehatan Masyarakat (Department van Volksgezondheid), karena air minum erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, yang mengawasi kualitas produksi.

Karena milik pemerintah kotapraja, perusahaan air minum itu dibiayai oleh pemerintah. Selain itu, ada juga pelayanan air bersih yang dikelola swasta seperti di Tanjungpinang, yang kemudian menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Perusahaan-perusahaan asing seperti Caltex di Dumai dan BPM di Balikpapan juga menyediakan air bersih walau terbatas untuk kebutuhan karyawan-karyawan mereka yang biasanya tinggal di kompleks-kompleks perumahan perusahaan-perusahaan tersebut.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Histori

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Published

on

Kota Depok

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga Ibu Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman, kota pendidikan, pusat pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata serta sebagai kota resapan air.

Kota Depok sendiri diresmikan pada 27 April 1999. Peresmian Kota Depok berdasarkan Undang-undang No. 15 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tk. II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999.

Nah mengenai asal-usul nama Kota Depok, ada beberapa versi. Versi pertama adalah nama Depok merujuk dari bahasa Belanda De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen yang artinya organisasi kristen yang pertama.

Baca Juga:

  1. Roti Gambang, Disebut Bantalan Rel, Ternyata Terbaik di Dunia
  2. Sate Bulayak, Sate Sedap Khas Lombok yang Sarat Nilai Filosofis
  3. Lontong Roomo, Makanan Nikmat Khas Gresik yang Lahir di Era Sunan Giri

Dalam Jejak-jejak Masa Lalu Depok: Warisan Cornelis Chastelein (1657-1714), Jan-Karel Kwisthout mengatakan, Depok merupakan eksperimen Chastelein yang ingn melanggengkan kekuasaan lewat pendekatan humanis dan agama.

Chastelein merupakan pedagang tajir keturunan Prancis-Belanda yang membangun tanah koloninya sendiri. Chastelein membeli lahan partikelir di selatan Batavia yaitu Serengseng (sekarang Lenteng Agung) dan Depok. Tanah di Serengseng kemudian dibangun menjadi rumah peristirahatan Chastelein, sementara tanah Depok dijadikan lahan penghasil produk-produk pertanian.

Versi lain menyatakan nama Kota Depok merujuk sebagai tempat pertapaan. Kata Depok merupakan kependekan kata dari Bahasa Sunda Padepokan yang memiliki arti tempat pertapaan.

Ada pula versi yang menyebutkan Depok berasal dari kata ‘Deprok’ atau duduk santai ala melayu.

Kota Depok

Penamaan tersebut tidak terlepas dari perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian Depok membuat Prabu Siliwangi ngedeprok di kawasan yang tidak jauh dari Sungai Ciliwung.

Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba dari Kesultanan Banten saat melakukan perjalanan ke Cirebon menggunakan jalur yang melintasi kawasan Depok dan sempat menetap di Beji.

Seiring berjalanya waktu. Wilayah Depok setelah merdeka dan banyak peristiwa di daerah itu. Depok masuk di wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Mengutip dari situs resmi Pemerintah Kota Depok. Wilayah Depok berawal dari sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah Parung Kabupaten Bogor.

Kemudian pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI).

Serta meningkatnya perdagangan dan Jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan kecepatan pelayanan.

Kota Depok

Pada tahun 1981 Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1981 yang peresmiannya pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri dalam Negeri H. Amir Machmud yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17 (tujuh belas) Desa, yaitu :Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa Pancoram Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji, terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu : Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.

Kecamatan Sukmajaya, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu : Desa Mekarjaya, Desa Sukma Jaya, Desa Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, Desa Kalimulya.

Selama kurun waktu 17 tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik dibidang Pemerintahan, Pembangunan dan Kemasyarakatan.

Khususnya bidang Pemerintahan semua Desa berganti menjadi Kelurahan dan adanya pemekaran Kelurahan , sehingga pada akhirnya Depok terdiri dari 3 (Kecamatan) dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan, yaitu :

Kecamatan Pancoran Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu : Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahjn Rangkapan Jaya, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru.

Kecamatan Beji terdiri dari (enam) Kelurahan,yaitu : Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurah Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka, Kelurahan Kukusan, Kelurahan Tanah Baru.

Continue Reading

CityView

Rumah & Observatorium Bosscha, Jejak Mulia Sang Raja Teh Priangan

Published

on

Rumah Bosscha

Ketika mendengar nama Bosscha, ingatan kita pasti langsung tertuju pada tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Namun di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, pemilik nama lengkap Karel Albert Rudolf Bosscha punya banyak jejak yang sayang untuk dilupakan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan sosok di belakang berdirinya Peneropongan Bintang Bosscha yang hidup di kawasan Bandung, antara 1887 hingga 1928. Seorang Belanda yang kaya-raya dan dermawan.

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan putra seorang Fisikawan Belanda, Prof. Dr J Bosscha Jr, yang lahir pada 15 Mei 1865 di Belanda. Ia datang ke Indonesia, berlayar ke Jawa pada 1887. Saat itu usianya 22 tahun. Sesampainya ke Indonesia, ia bekerja di perkebunan teh milik pamannya. Hingga akhirnya pada 1896, Bosscha membangun perkebunan tehnya sendiri di kawasan Malabar, Pangalengan, Bandung Selatan. Namanya adalah Perkebunan Teh Malabar.

Baca Juga:

  1. Nikmatnya Kopi Durian Lampung, Kopi Peningkat Libido Lelaki
  2. Wajib Coba Teh Talua, Minuman Penambah Libido Asal Minang
  3. Kopi Jahe, Perekat Kehangatan Persaudaraan Masyarakat Betawi

Perkebunan teh itu berdiri di atas lahan seluas lebih dari 2.000 hektare. Selain teh, ia juga menanaminya dengan kina yang merupakan obat malaria. Jejak peninggalannya masih bisa ditemukan di berbagai sudut wilayah Bandung, salah satunya Rumah Bosscha.

Menurut Alam Buchori Muslim, staf pemasaran agrowisata PTPN VIII, rumah tersebut dibangun tepat ketika Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar pada 1896. Luas bangunannya sekitar 550 meter persegi. Meneer Belanda menempati rumah itu hingga akhir hayatnya, yakni pada 26 November 1928.

Usaha Bosscha cukup sukses. Selama 32 tahun menjadi pengelola, perkebunan teh miliknya berkembang hingga memiliki dua pabrik teh dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar internasional. Dari hasil perkebunan tehnya inilah, Bosscha menyumbang dana ke berbagai yayasan pendidikan di sekitar Bandung, termasuk untuk pendirian Technische Hoogeschool te Bandoeng (ITB sekarang) dan membuat peneropongan bintang, yang sekaligus merupakan keinginannya.

Rumah Bosscha

Bersama kolega, Bosscha sendirilah yang membeli Teleskop Refraktor Bamberg dan Teleskop Refraktor Ganda Zeiss yang pada masa itu harganya sangat mahal. Ia langsung membelinya dari Jerman. Sayang, sebelum dapat melihat bintang, pada 26 November 1928 Bosscha sudah lebih dulu meninggal. Ia dimakamkan di sekitar kawasan perkebunannya di Malabar; sesuai dengan permintaannya.

Observatorium Bosscha

Di sisi lain, Rumah peristirahatan Bosscha mengadopsi arsitektur Eropa yang ditandai oleh cerobong asap dari tungku kayu bakar di ruang tengah. Rumah itu terdiri dari beberapa kamar tidur dan kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, bar, dapur bersih, dapur kotor, dan ruang bawah tanah.

Bangunan didominasi oleh material kayu dan batu alam berwana hitam yang bisa terlihat di dinding luar. Rumah dikeliling tanaman besar dan kecil yang menambah keasrian bangunan berbentuk persegi itu. Rumah tersebut pernah direnovasi beberapa kali, seperti saat penjajahan Jepang sekitar 1942 dan Gempa Pangalengan yang terasa sampai Malabar.

Continue Reading

Histori

Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia

Published

on

Douwes Dekker

“Pada 1956, dihadapan tokoh Indo dalam Gabungan Indo untuk Kesatuan Indonesia (GIKI), Presiden Soekarno menobatkan gelar “Bapak Nasionalisme Indonesia”, kepada Ernest Francois Eugene Douwes Dekker”.

Dialog tentang nasionalisme Indonesia seolah tak kunjung usai. Wacana nasionalisme tiada henti-henti ditafsirkan, bahkan kerapkali disisipi maksud politis dan agenda tertentu. Seakan wacana nasionalisme bagian dari kehendak rezim.

Rezim Orde Baru mengubur wacana nasionalisme Orde Lama yang lebih mengedepankan peran sipil (negarawan) ketimbang militer.

Di bawah rezim Orde Baru, pengaruh militer melambung, sedangkan peran sipil dalam sejarah Indonesia meredup. Akibatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia mempercayai bahwa kemerdekaan tidak dapat tercapai tanpa perjuangan fisik.

Jika saya tidak menempuh pendidikan di jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Airlangga, mungkin, pemahaman saya selaras dengan wacana nasionalisme yang dibentuk rezim Orde Baru. Jauh lebih masuk akal mengagung-agungkan peran militer daripada sipil, apalagi jikalau Cityzen hanya memperoleh informasi dari pelajaran sekolah.

Bagaimana anda bisa memahami peran sipil dalam sejarah Indonesia, apabila anda hanya membaca buku referensi yang mendukung perjuangan militer. Cityzen bisa mengamati berbagai buku pelajaran sejarah dari sekolah dan akan menjumpai penjelasan perjuangan sipil yang seakan-akan cepat dibasmi. Seperti Indische Partij yang diceritakan berumur singkat, tanpa ada penjelasan lebih lanjut terkait keberlanjutan dari wacana nasionalisme yang diusungnya.

Coba bandingkan dengan peran militer, tentu sangat hebat. Perjuangan fisik seolah-olah solusi kemerdekaan Indonesia yang paling konkret, sedangkan gambaran perjuangan sipil melalui diplomasi maupun negoisasi tampak rumit, dan mendefinisikan keberhasilannya sangat sulit, terlebih untuk murid sekolahan. Akan tetapi, sesungguhnya perjuangan militer juga mengalami kerumitan yang sama dengan perjuangan sipil.

Pasca Perang Revolusi Fisik (Agresi Militer Belanda), dalam kubu militer terjadi banyak pergolakan internal yang ditafsirkan sebagai masalah eksternal.

Berbagai pemberontakan dan aksi-aksi kerusuhan bersumber dari ketidaksanggupan pihak militer dalam mengorganisir laskar-laskar rakyat (para-militer).

Namun, rezim Orde Baru telah menggarap narasi sejarah Indonesia dengan baik, sehingga penulisan sejarah mengenai hal itu baru muncul setelah Reformasi.

Berbalik ke masa Orde Lama, Soekarno pernah menganugerahi gelar Bapak Nasionalisme Indonesia kepada pejuang sipil dari kaum Indis, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker.

Indis (Indo, Indisch) mengacu pada sifat ke-Hindia Belanda-an yang terwujud dalam kebudayaan hibrida (campuran Barat-Belanda dan Timur-Jawa). Kaum Indis mendukung kebudayaaan Indis dan Ernest F.E. Douwes Dekker atau Danudirdja Setiabudhi bagian darinya.

Baca Juga:

  1. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau
  2. Inggris di Jawa: Kala Britania Menanamkan Modal di Indonesia
  3. Tri Koro Dharmo, Lahirnya Kaum Terpelajar yang Fokus Pada Isu Pendidikan

Menurut Djoko Soekiman dalam buku Kebudayaan Indis; Dari Zaman Kompenie Sampai Revolusi, persona Ernest F.E Douwes Dekker tidak terlepas dari kehidupan masa kanak-kanaknya.

Selazimnya anak-anak dari keluarga Indis, ia diasuh para babu atau jongos yang juga merangkap sebagai pembantu rumah tangga. Kultur masyarakat Indis dan pendidikan Barat inilah yang mempengaruhi pandangan dunia seorang Ernest F.E Douwes Dekker.

Ernest F.E Douwes Dekker tumbuh menjadi pemuda yang idealis. Ernest F.E Douwes Dekker diberhentikan, oleh atasannya R. Jesse, setelah membela pekerja perkebunan kopi Sumber Duren di kaki Gunung Semeru yang dieksploitasi.

Karir keduanya sebagai pegawai laboratorium (ahli kimia) di pabrik gula Pajarakan, Probolinggo, juga tumbang karena ia memprotes kecurangan dalam pembagian air irigasi antara sawah milik warga pribumi dan perkebunan tebu kolonial.

Episode berikutnya, tulis Pradipto Niwandhono, dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan ; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia, Ernest F.E Douwes Dekker mendaftakan diri sebagai sukarelawan dalam Perang Besar Boer (1899-1902).

Orang-orang Calvinis Belanda membangun koloni permanen di Capetown (Afrika Selatan) semenjak tahun 1652, nantinya mereka dikenal sebagai kaum Boer. Sepanjang abad ke-19, secara berangsur-angur Inggris menjarah wilayah kekuasaan kaum Boer.

Samuel Williard Crompton dalam buku 100 Peperangan Yang Berpengaruh Di Dalam Sejarah Dunia menulis jika serangkaian peperangan sengit memuncak pada 1899, Ernest F.E Douwes Dekker bergabung dalam kekuatan Boer dibawah komando Piet Conje, Louis Botha, dan Jacobus De La Rey. Perjanjian Vereeniging mengakhiri perang, kaum Boer mengakui kedaulatan Inggris, sebagai gantinya memperoleh kompensasi kerugian perang dan hak istimewa.

Menyaksikan langsung Perang Boer, pandangan dunia Ernest F.E Douwes Dekker semakin terbuka. Penemuan emas di negara bagian Boer, Transvaal, menggambarkan eksploitasi sumber daya yang mendorong kolonialisme.

Konflik agraria (pertanahan) pun terjadi, orang-orang Boer mempertahankan tanah leluhurnya dari ekspansi Inggris yang merangsang nasionalisme. Cara Inggris menuntaskan konflik dengan Boer bagi Ernest F.E Douwes Dekker bisa diterapkan di negeri jajahan Hindia Belanda.

Gagasan Ernest F.E Douwes Dekker tentu tidak digubris karena terlampau radikal (dalam konteks pemerintah kolonial Belanda padapermulaan abad ke-20).

Pemerintah kolonial Belanda sangat konservatif dan penuh pertimbangan, terutama bila menyinggung dana dan isu diskriminasi ras yang Ernest F.E Douwes Dekker usung dalam berbagai opininya di surat kabar.

Di sisi lain, Ernest F.E Douwes Dekker mendobrak nasionalisme Indonesia, yang tanpa memandang etnis, suku dan ras, terpenting lahir dan menghuni tanah Hindia Belanda.

“(Ernest) Douwes Dekker sendiri telah sering memberi penekanan pada pembaca Indo-nya bahwa mereka akan ‘berkhianat’ pada ibu Jawa mereka jika mengambil sikap superior (congkak ala Eropa) tersebut. Oleh karenanya, ia mendesak khlayak Indo untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘orang-orang Hindia (de Indiers), tempat mereka lahir dan dibesarkan”, tulis Pradipto Niwandhono dalam bukunya Yang Ter(di)lupakan; Kaum Indo dan Benih Nasionalisme Indonesia.

Continue Reading

Latest News

CityView7 bulan ago

Demi Bangun IKN Nusantara, Kementerian PUPR Kirim 25 Orang ke Korsel Belajar Smart City

Kementerian PUPR mengirim 25 orang untuk belajar smart city concept untuk diterapkan di IKN Nusantara ke Korea Selatan. Negara ini...

Kesehatan-Kecantikan7 bulan ago

Asam Jawa, Tanaman Pengundang Makhluk Halus yang Jadi Obat Tradisional Indonesia

Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika. Orang-orang India mengembangkannya karena...

Hangout7 bulan ago

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun, Inilah 6 Tempat Makan Legendaris di Cikini

Cikini terletak di pusat kota Jakarta. Selain menjadi wilayah yang memiliki banyak sejarah, Cikini juga memiliki banyak tempat kuliner. Bahkan...

Properti7 bulan ago

Jadi Buruan Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, Ini Pengertian Hunian Private Cluster

Berbagai konsep hunian terus dihadirkan khususnya untuk mengantisipasi situasi pandemi. Perumahan mini real estat dengan jumlah unit terbatas lebih mudah...

Traveling7 bulan ago

Ramah untuk Wisatawan Muslim, Ini 4 Alasan Orang Indonesia Wajib Liburan ke Turki

Tempat wisata ramah muslim memiliki peluang menggiurkan saat ini. Sebab itulah beberapa negara sangat gencar menawarkan wisata jenis ini. Turki...

Pojok7 bulan ago

Tradisi Aji Ugi, Pergumulan Islam & Budaya yang Jadi Kebanggan Orang Bugis

Haji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Umat Islam juga meyakini bahwa haji adalah ibadah yang pahalanya berlipat ganda....

Infrastruktur7 bulan ago

Begini Rumitnya Konstruksi Tol Semarang-Demak, yang Sekaligus Tanggul Laut

Jalan tol Semarang-Demak dibangun dengan konstruksi khusus beberapa lapis di atas laut untuk juga menjadi tanggul laut sebagai antisipasi banjir...

Histori7 bulan ago

Asal-muasal Nama Depok, Tempat Pertapaan Prabu Siliwangi yang Kini Jadi Penyangga Ibu Kota

Selain merupakan Pusat Pemerintahan yang berbatasan langsung dengan Wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Kota Depok juga merupakan wilayah penyangga...

Traveling7 bulan ago

Pulau Asu, The Paradise on Earth Asli Indonesia

Pulau Asu adalah pulau terpencil dalam Kepulauan Hinako dan merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau Asu berada di wilayah...

Internasional7 bulan ago

Rusia Dinilai Sudah Menang Lawan Ukraina, Ini Buktinya

Pengamat militer dari lembaga think tank RUSI (Royal United Services Institute) di London, Inggris, Neil Melvin, menilai bahwa Rusia sudah...

Internasional7 bulan ago

Pemerintah Rusia Konfirmasi Zelensky Titip Pesan Khusus ke Putin Lewat Jokowi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ternyata menitipkan pesan khusus kepada Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), untuk disampaikan ke Presiden...

Properti7 bulan ago

Inilah Standar Rumah Sehat Sesuai SNI

Pandemi Covid-19 yang kita jalani sejak awal tahun 2020 telah mengubah lifestyle hingga konsep rumah. Penerapan rumah yang sehat mutlak...

Nasional7 bulan ago

Beli Minyak Goreng Curah Pakai Aplikasi PeduliLindungi Diperpanjang Hingga 3 Bulan

Pemerintah berupaya untuk menemukan keseimbangan terkait pengendalian minyak goreng dari sisi hulu hingga hilir. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang...

COVID-19Update7 bulan ago

Korea Utara Sebut Benda Alien di Perbatasan Korsel Sebagai Penyebab Pandemi Covid-19

Korea Utara mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait pandemi Covid-19. Mereka menyatakan wabah Covid-19 di negara mereka dimulai dari pasien yang menyentuh...

Internasional7 bulan ago

Serangan Dilakukan Acak, Wanita di AS Ditembak di Kepala saat Dorong Bayi

Sampai kini masih terus terjadi kasus penembakan maut di Amerika Serikat (AS). Bahkan, baru-baru ini kasus tersebut kembali terjadi hingga...

Nasional7 bulan ago

Ibu Iriana, Ibu Negara Pertama yang Kunjungi Ukraina

Untuk melihat situasi dan memberi dukuan terhadap Ukraina atas perang yang terjadi, beberapa pemimpin negera pun mengunjungi Kyiv. Bahkan, terbaru...

Lifestyle7 bulan ago

Anak Kecanduan Gadget? Simak 6 Tips Menghentikannya

Saat ini, anak-anak sudah menjadi lebih terbiasa bermain dengan gadget daripada bermain di luar. Mereka kecanduan game mobile, televisi, dan...

CityView7 bulan ago

Perkenalkan Bubakan, Kampung Elite Para Tukang Bakso di Wonogiri

Diketahui, karena pidato dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional PDIP Perjuangan pada Selasa (21/6/2022) menyebut kata...

Hangout7 bulan ago

Museum PETA, Simbol Penghargaan untuk Pejuang Tanah Air

Museum PETA yang berada di Bogor merupakan destinasi wisata sejarah yang dapat kalian kunjungi untuk mengenang jasa para pahlawan Indonesia....

Bisnis7 bulan ago

Mantan Bos Bukalapak Ungkap Penyebab Ramai Perusahaan StartUp Tumbang

Perusahaan startup secara bersamaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya beberapa waktu lalu. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi yang...

Teknologi7 bulan ago

Mulai 1 Juli 2022, Beli Pertalite Wajib Daftar di Aplikasi Pertamina

Mulai 1 Juli 2022, aplikasi My Pertamina bakal menjadi syarat bagi pembeli untuk mereka dapat membeli bahan bakar minyak (BBM)...

Sosial-Budaya7 bulan ago

Melacak Jejak Sirih dan Pinang, Budaya Nginang Masyarakat Indonesia

Tradisi nyirih kini hanya tersisa dalam sebuah masyarakat tradisional, yang notabene sedikit terpapar oleh proyek modernitas atau proses pembaratan secara...

CityView7 bulan ago

Fenomena Klitih dan Munculnya Maskulinitas Semu

Fenomena Klitih mengalami pergeseran makna dari sesuatu yang positif menjadi sesuatu yang negatif. Jika dulu klitih dimaknai sebagai cara untuk menghilangkan rasa...

Internasional7 bulan ago

Sebar Hoaks Tentang Operasi Militer Spesial ke Ukraina, Rusia Denda Google Rp18 Miliar

Google dikabarkan telah didenda senilai 68 juta rubel atau sekitar Rp 18 miliar oleh pengawas telekomunikasi Rusia, Roskomnadzor. Di mana...

Internasional7 bulan ago

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman,...

Trending